Rabu, 08 April 2015

Amal Biasa, Luar Biasa


Pernah suatu kali, bapak mengajakku silaturahim ke rumah teman-temannya. Awalnya aku sendiri sangat malas, namun karena bapak memaksa, akhirnya aku pun terpaksa menuruti permintaannya. 

Ternyata kawan yang dimaksud oleh bapak adalah seorang saudagar Arab, namanya Pak Abud. Lantai bawah rumahnya merupakan show room mobil, lantai dua kantor dan lantai tiga baru lah rumah beliau. Khas rumah orang Arab, tamu lelaki dan perempuan punya ruang tamu terpisah. Aku berkesempatan melihat lebih jauh ke dalam rumah Pak Abud. Karpet-karpet impor, lampu lampu kristal besar seperti yang di masjid-masjid, dan aneka hiasan yang belum pernah kulihat sebelumnya menghiasi rumah ini. 

Sejenak menunggu, seorang asisten menemui bapak, “Maaf Pak, apa sudah ada janji sebelumnya?” Tanyanya. “Belum, saya silaturahim saja.” 

“Oh, kalau begitu harus menunggu sampai jam 10. Pak Abud biasanya menyelesaikan tilawah dan Sholat Duha, tidak terima tamu kecuali sudah janjian, tapi kalo mau menunggu silahkan saja.” Terangnya.

Akhirnya, kami memilih berpamitan. Ternyata bapak mengajakku ke rumah temannya yang lain. Sementara bapak asik mengobrol, aku mulai bosan. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, seorang perempuan paruh baya nampak membersihkan masjid besar di samping rumah ini. Ternyata ia istri tuan rumah. Aku heran, sebab bisa saja beliau menyuruh para pegawainya melakukannya. Tapi rupanya ini sudah menjadi kebiasaan, beliau selalu membersihkan masjid jelang waktu sholat, begitu penjelasan yang kuterima.

Jelang Maghrib kami berpamitan. Kupikir tadi adalah destinasi terakhir, tapi bapak mengajakku ke rumah temannya yang lain. Sayang beribu sayang, kedatangan kami kali ini langsung ditolak. Karena empunya rumah tidak terima tamu ba’da Maghrib hingga Isya.

Sepanjang perjalanan pulang, bapak bercerita, semua orang yang kami kunjungi adalah orang sukses, ternyata di balik kesuksesannya mereka punya amal unggulan yang rutin dikerjakan. Sambil menggoda bapak, aku angkat bicara, “Nah, pantes! Bapak sampai sekarang belum sukses!” Sebelum diceramahin, mending aku duluan yang ambil kesimpulan. Kami berdua pun sama-sama terkekeh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar