Diary Kompilasi
27 Maret 2015
"Diskusi adalah bagian dari pembelajaran."
-Nassirun Purwokartun-

Dikisahkan ada seorang remaja belia yang gemar mengetuk pintu rumah para sahabat Rosulullah Sholallohu Alaihi Wasalam, satu per satu ia datangi para sahabat untuk bertanya akan banyak hal. Semangatnya menimba ilmu sungguh besar, tak jarang ia tertidur di muka pintu rumah para sahabat, demi menunggu si empunya rumah dan mengajaknya berdiskusi.
“Wahai keponakan Rosulullah, mengapa tidak kami saja yang datang menemuimu, untuk menimba ilmu darimu?” ujar para sahabat.
“Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda.” jawabnya
Pemuda belia itu bernama Abdullah Ibnu Abbas, hingga ia tumbuh menjadi seorang yang faqih dalam tafsir dan agama. Para sahabat seringkali bertanya padanya, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu seperti itu wahai Ibnu Abbas?”
“Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berpikir.”
Umar bin Khatab Radhiallohu Anhu bahkan menjadikan pemuda ini patner diskusinya. Beliau senantiasa memanggil Ibnu Abbas untuk duduk di majelisnya dan menyimak setiap pendapat Ibnu Abbas dalam banyak persoalan. Bahkan Umar menjulukinya “Pemuda tua”.
Kebiasaan diskusi adalah warisan para nabi dan rosul. Rosulullah Sholallohu Alaihi Wa salam selalu memberikan kesempatan diskusi pada para sahabat. Begitu antusias para sahabat mendengarkan penjelasan Rosulullah, dan mereka gemar sekali bertanya. Pertanyaan mereka akan mempertajam pengetahuan. Tak hanya itu, dengan berdiskusi amat banyak inspirasi yang muncul, peluang kita untuk menjadi inspirasi bagi kawan yang lain, selain itu diskusi juga mengasah kepekaan kita terhadap inovasi dan pengetahuan baru, serta masih banyak lagi manfaat dari berdiskusi yang bisa kita peroleh.
Hari ini berada 14 abad jauh dari masa-masa para penuntut ilmu itu berada, budaya diskusi mulai terkikis dari kebiasaan para pemuda Islam. Ilmu seringkali menjadi barang tabu yang tak boleh menjadi bahan diskusi, sehingga pengetahuan hanya sebatas pada apa yang diberikan oleh guru pada muridnya. Ada tiga kemungkinan dalam hal ini, kemalasan sang murid untuk berpikir dan bertanya sehingga merasa cukup dengan ajaran gurunya, atau barangkali sang guru tak memberi kesempatan pada muridnya untuk berdiskusi. Kemungkinan terakhir adalah karena merasa cukup dengan banyaknya informasi yang ada, terlebih saat ini adalah era informasi, di mana kita bisa langsung bertanya pada guru besar seluruh bangsa yaitu Google. Padahal ada banyak sekali pengetahuan yang harus kita saring dari Google, dan hal itu hanya bisa kita lakukan dengan cukupnya ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Ironisnya, di kala kita enggan dan malu-malu untuk berdiskusi, kebiasaan baik ini justru telah sekian lama menjadi kebiasaan para pejuang kebathilan. Pernah satu ketika saya dikejutkan sebuah pengalaman yang luar biasa, sekelompok pemuda duduk melingkar tengah malam buta di sebuah warung tenda. Saya pikir itu adalah tongkrongan biasa yang hanya dilakukan untuk membuang jenuh dan sebagai hiburan akhir pekan. Namun ternyata saya salah, mereka justru berbicara banyak hal, pendidikan, politik, strategi, budaya, dan banyak lagi. Sayangnya saya paham betul, apa yang mereka bicarakan arahnya adalah pada pemisahan agama dengan aspek-aspek kehidupan. Bagaimana mereka begitu bersemangat untuk membuat analisis akan sebuah persoalan, mengulitinya sampai tidak tersisa, hingga muncul ide-ide luar biasa yang menyeramkan bagi saya, tapi bagi mereka adalah sebuah penemuan.
Apakah memang mereka yang berhak mewarisi budaya diskusi para nabi? Tanya saya dalam hati.
Kita bersyukur, karena dalam setiap kesempatan, guru kita Pak Nassirun, Komunitas Soto Babat, dan para guru yang dihadirkan di majelis Kompilasi, berkenan membuka pintu ilmu seluas-luasnya. Mereka siap memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Namun sayang sekali, seringkali peluang itu terlewatkan karena keengganan kita untuk bertanya dan berdiskusi, menggali lebih dalam materi-materi yang disampaikan, jiwa kritis kita seolah mati.
Barangkali semangat kita menuntut ilmu memang jauh dari Abdullah Ibnu Abbas, sebab niatan kita memang belum sekokoh niat yang terpancang dalam hati Ibnu Abbas. Bila menulis telah menjadi bagian dari ibadah, menjadi sebuah jalan dakwah yang kita pilih, tentulah kesempatan ini menjadi sebuah kesempatan yang sangat besar bagi kita untuk menggali ilmu lebih dalam lagi dari para guru. Semoga kisah Ibnu Abbas di atas, mampu menjadi pemantik motivasi, agar peribadatan tinta dan dakwah bil qolam yang akan kita jalani, bukan lagi sekadar pilihan, tapi juga sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan.
Bismillah, luruskan niat, rapatkan barisan, sempurnakan ikhtiar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar