Senin, 06 April 2015

Terimakasih Tikus Kecil

Pagi ini, aku berencana mengganti semua sprei di rumah. Aku dan suamiku tinggal berdua saja. Meskipun demikian, bapakku selalu datang menengok ke rumah setiap hari. Beberapa hari lalu aku terkena flu, dan karena kami cuma tinggal berdua saja, dengan rumah yang terdiri dari 3 kamar tidur, aku bisa tidur di mana saja, sesukaku. Akibatnya, begitu aku sembuh, semua sprei harus diganti, selain memang kupikir sudah waktunya diganti.

Aku punya lemari khusus di kamar belakang untuk menyimpan sprei. Lemari tua peninggalan ibuku, aku meletakkannya di ruang setrika, kamar paling belakang di rumah ini. Kamar yang paling jarang kukunjungi dan kondisinya lebih mirip gudang cucian, karena sejujurnya aku amat jarang menyetrika baju. Parahnya cucian itu dibiarkan menggunung di atas sebuah dipan kecil dalam ruangan. Betul-betul seperti gunung. Aku hanya menyetrika beberapa baju saja untuk bepergian, sisanya aku bahkan tak perduli. Hingga stok baju dalam lemari habis, aku baru kembali ke kamar itu, dan memanggil seseorang untuk membantuku menyetrika seluruh baju yang ada di kamar itu.

Hari ini, ketika membuka pintu lemari, aku melihat makhluk hitam kecil menyembunyikan dirinya dari pandanganku, matanya menatapku penuh kegelisahan, sementara tubuh kecilnya terus berusaha merangsek ke dalam. Tikus, aku benci tikus, sangat membencinya. Aku bukan Cinderella yang bisa bermain bersama tikus untuk menunjukkan kebaikan hati. Seketika itu pula aku berteriak, "Mas, ada tikus!"


Aku terus berteriak hingga suamiku datang, aku terus mengawasi makhluk kecil itu yang semakin waspada. Suamiku dengan sigap mengambil sebilah pipa paralon, menyuruhku ke luar dan menutup pintu kamar. Aku mendengar semuanya, dia berjibaku dengan tikus-tikus itu, suara klontang-klanteng terdengar dari luar. Lalu dia menyuruhku mengambil plastik untuk membungkus mayat-mayat tikus itu. Aku begidik, tapi sekaligus bersyukur, untuk sejenak mengeluh, melihat sprei-spreiku sudah terkena tikus.

Aku menghela nafas panjang. Aku harus mencucinya kembali, dan lebih memperhatikan ruangan ini. Gunungan cucian itu, sisi-sisi jendela yang tak tertutup dengan sempurna, juga sarang laba-laba di sudut langit-langit kamar. Aku betul-betul harus membereskannya. Sementara pikiranku melayang pada pekerjaan harianku yang lain.

Balada tinggal di rumah induk yang besar, sungguh sebuah epik yang sulit untuk kuhindari. Rumah yang dulu begitu rapi ketika ibuku masih hidup. Ketika masih riuh dengan keributanku dan dua orang kakakku, ketika masih ada seorang pembantu yang selalu siaga membereskan seluruh sudut ruangan. Sementara kini aku harus mengerjakannya sendiri. Aku ingin mengeluh, tapi terlalu malu.

Berbeda dengan perempuan lain yang memiliki anak, tentu mereka ada alasan untuk memiliki seorang pembantu, tapi aku begitu bebas, ibu rumah tangga biasa yang tak punya jadwal pekerjaan tetap seperti ibu bekerja, aku juga punya suami yang sangat toleran dengan kemalasanku, terkadang aku bahkan hanya melewatkan hari dengan membaca buku.

Ya, ada yang harus diubah dalam manajemen hidup seorang ibu rumah tangga, khususnya aku. Dan tikus menyebalkan itu, adalah alarm pemantik kesadaran, dia datang dari dunianya, untuk memberi pelajaran pada seorang ibu rumah tangga pemalas seperti diriku. Malang nasibnya, berakhir dengan eksekusi mati diujung pipa paralon.

Terimakasih tikus kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar