Senin, 06 April 2015

Belajar Jurnalistik Pada Wahyu Mandoko #Part1

Diary Kompilasi
Kamis, 19 Maret 2015
“Jiwa saya adalah menulis berita.”
Wahyu Mandoko



“Saya kesulitan berbicara, suarane ora genah.” ujar pria itu.

Saya tidak menangkap sedikit pun ”suara ora genah” yang dimaksudnya. Sejauh obrolan kami selama lebih dari 5 menit, kesan yang saya dapat adalah satu, pandangan mata yang cemerlang. Mata yang penuh pengetahuan.

“Katanya 10 orang, ini kok cuma 2 orang, Nasirun nglombo lah!” kali ini ada sedikit kecewa dalam ucapannya. Sontak saya merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, memang baru 2 orang yang hadir.

“Saya tunggu dari jam 3.” kalimat ini semakin membuat saya merasa bersalah.

Rasa bersalah semakin membuncah, ketika beliau menyindir halus dengan cerita Dahlan Iskan saja dibuatnya menunggu. Duh, saya semakin grogi.

Pria itu adalah Wahyu Mandoko, mantan wartawan senior di Suara Pembaruan. Tak banyak yang kami tahu soal beliau, bukan karena beliau bukan seorang pesohor, namanya saja tercantum dalam Wikipedia, hanya pengetahuan kami saja yang masih lebih rendah daripada kuku hitam. Saya dan Mbak Susi memutuskan untuk menggunakan fasilitas Google Search untuk mengenal sekilas tentang Pak Wahyu Mandoko.

Mungkin karena menangkap kesan kami termasuk golongan Islam garis keras, beliau sedikit mengupas tentang kisah bosnya, Bapak Albert Hasibuan. “Saya sudah siap itu, pakai baju rapi sekali, mau wawancara dengan Menteri, lalu saya dihadang oleh karyawan, Bos itu mushola sudah tidak layak pakai. Ini karena yang memakai itu sopir, karyawan-karyawan, mushola kotor sekali, bau lah. Akhirnya saya segera menemui bos besar. Waktu itu bos besar sedang seneng-senengnya punya laptop baru, sampai-sampai ketika saya menyampaikan itu dia tidak menoleh sedikitpun. Saya dendam sekali, dalam hati suatu saat kalau ada kesempatan, akan saya pukuli orang ini.”

Untung kami tidak terpancing emosi dan tetap pasang senyum sejuk di wajah, karena kelanjutan ceritanya memang sudah bisa di tebak, “Nah, pulang dari ketemu menteri, itu hanya beberapa jam saja, jam 2 lah saya balik ke kantor, saya dihadang lagi oleh karyawan, mereka bersalaman dan mengucapkan terimakasih. Katanya mushola sudah rapi, karpet sudah diganti, kran sudah diperbaiki. Saya jadi merasa bersalah, ternyata bos saya yang orang Kristen mau melakukan semua itu. Saya jadi merasa bersalah sekali karena tadi sudah berniat mau njotosi.”

Seperti kata Pak Nass, beliau memang agak narsis, wajar saja bila pertemuan pertama kami banyak sekali kisah tentang masa lalu yang diceritakan.

Suasana semakin cair ketika satu per satu teman-teman yang lain hadir. Termasuk Pak Nassirun Purwokartun yang sedang sakit juga hadir. Soal ini juga ada kesan tersendiri, Pak Nass memang sudah menyampaikan perihal sakitnya sejak pagi, saya pikir kegiatan sore ini akan batal tanpa kehadiran beliau. Ternyata saya salah, bahkan ketika beliau menyampaikan kondisinya tidak memungkinkan untuk berangkat, saya merasa khawatir acara tidak akan berlangsung optimal tanpa kehadiran Pak Nassirun.

Total kawan Kompilasi yang hadir 6 orang ditambah krucil-krucil yang ikut bundanya belajar menulis. Mbak Susi, Amrin, Mbak Siti, Sila, Ighna, dan saya. Karena belajar di teras dirasa kurang nyaman, kami diajak belajar di teras belakang. Melewati ruang tamu, ruang tengah, halaman belakang dan halaman paling belakang. Sepanjang perjalanan ke teras belakang, kami melihat aneka koleksi foto beliau, sebuah bukti napak tilas perjalan hidup seorang Wahyu Mandoko, memuat masa muda, masa jaya, hingga akhirnya kini menderita stroke.

Pelajaran pertama adalah Pengantar Teknik Pembuatan Berita. Beliau menyampaikan bahwa dalam sebuah berita, wajib memuat 5W dan 1H. Istilah piramida terbalik digunakan untuk menunjukkan teknik menulis 5W 1H, awalnya kami agak bingung dengan maksud piramida terbalik tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah meletakkan poin-poin penting dalam berita pada paragraf awal.

Contohnya: Banjir besar melanda Sumpiuh, kemarin Senin 12 Maret 1995. Merobohkan 45 rumah dan 3 bangunan sekolah dasar. Hingga hari ini tercatat kerugian sebesar 1,4 milyar rupiah. Warga mengungsi sementara di Balai Desa.

Paragraf pertama memuat what, when, where, who, why. Pargaraf berikutnya mempertajam paragraf pertama dengan why dan how. Berkali-kali di tengah penjelasan beliau menyampaikan bahwa membuat berita itu mudah. Saya suka sekali bagian ini. Di mana beliau tersenyum sambil mengangkat sedikit tangan dan mengatakan, “Gampang,  gampang sekali.”

“Berita untuk koran harus dibuat sesingkat dan seluwes mungkin. Tak perlu menggunakan bahasa yang sulit, istilah yang terlalu sulit dipahami. Harus enak dibaca tukang becak sampai professor. Orang baca koran itu orang yang tergesa-gesa, cukup dibaca sepintas orang sudah tahu keseluruhan isi berita.” papar beliau lagi.

Beliau juga menyampaikan beberapa syarat seseorang menjadi wartawan, di antaranya rajin, cerdas, banyak pengetahuan, dan yang paling penting bisa menulis. Selain beberapa syarat tersebut, untuk menulis di media, kita juga harus melihat selera editor. Caranya dengan mengamati tulisan-tulisan yang banyak dimuat di media tersebut, melihat selera koran, dan tidak berputus asa ketika berkali-kali tulisan kita ditolak.

Di sela-sela penjelasan, berkali-kali beliau berdiskusi dengan Pak Nass tentang beberapa tokoh maupun peristiwa yang membuat kami roaming. Muchtar Lubis, Poppy Donggo, dan masih banyak lagi yang disebut. Rasanya jauh sekali jalan yang harus ditempuh untuk bisa mengimbangi pembicaraan mereka. Namun demikian, saya merasa senang, ada motivasi setidaknya untuk mulai membaca. Begitu banyak pengetahuan yang belum terbaca, sementara pengetahuan baru terus bermunculan, dan waktu terus berjalan.


Banyak sekali pelajaran yang tersurat maupun yang tersirat dari pertemuan kami hari itu. Tepat sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang, pertemuan kami tutup dengan foto bersama. Barangkali semua merasakan perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan, kapan lagi waktu untuk pertemuan berikutnya? Semoga segera!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar