Diary Kompilasi
Kamis, 19 Maret 2015
“Jiwa saya adalah menulis berita.”
Wahyu Mandoko
“Saya kesulitan berbicara, suarane
ora genah.” ujar pria itu.
Saya tidak menangkap sedikit pun
”suara ora genah” yang dimaksudnya. Sejauh obrolan kami selama lebih dari 5
menit, kesan yang saya dapat adalah satu, pandangan mata yang cemerlang. Mata
yang penuh pengetahuan.
“Katanya 10 orang, ini kok cuma 2
orang, Nasirun nglombo lah!” kali ini ada sedikit kecewa dalam ucapannya.
Sontak saya merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, memang baru 2 orang yang
hadir.
“Saya tunggu dari jam 3.” kalimat
ini semakin membuat saya merasa bersalah.
Rasa bersalah semakin membuncah,
ketika beliau menyindir halus dengan cerita Dahlan Iskan saja dibuatnya
menunggu. Duh, saya semakin grogi.
Pria itu adalah Wahyu Mandoko,
mantan wartawan senior di Suara Pembaruan. Tak banyak yang kami tahu soal
beliau, bukan karena beliau bukan seorang pesohor, namanya saja tercantum dalam
Wikipedia, hanya pengetahuan kami saja yang masih lebih rendah daripada kuku
hitam. Saya dan Mbak Susi memutuskan untuk menggunakan fasilitas Google Search
untuk mengenal sekilas tentang Pak Wahyu Mandoko.
Mungkin karena menangkap kesan kami
termasuk golongan Islam garis keras, beliau sedikit mengupas tentang kisah
bosnya, Bapak Albert Hasibuan. “Saya sudah siap itu, pakai baju rapi sekali,
mau wawancara dengan Menteri, lalu saya dihadang oleh karyawan, Bos itu mushola
sudah tidak layak pakai. Ini karena yang memakai itu sopir, karyawan-karyawan,
mushola kotor sekali, bau lah. Akhirnya saya segera menemui bos besar. Waktu
itu bos besar sedang seneng-senengnya punya laptop baru, sampai-sampai ketika
saya menyampaikan itu dia tidak menoleh sedikitpun. Saya dendam sekali, dalam
hati suatu saat kalau ada kesempatan, akan saya pukuli orang ini.”
Untung kami tidak terpancing emosi
dan tetap pasang senyum sejuk di wajah, karena kelanjutan ceritanya memang
sudah bisa di tebak, “Nah, pulang dari ketemu menteri, itu hanya beberapa jam
saja, jam 2 lah saya balik ke kantor, saya dihadang lagi oleh karyawan, mereka
bersalaman dan mengucapkan terimakasih. Katanya mushola sudah rapi, karpet
sudah diganti, kran sudah diperbaiki. Saya jadi merasa bersalah, ternyata bos
saya yang orang Kristen mau melakukan semua itu. Saya jadi merasa bersalah
sekali karena tadi sudah berniat mau njotosi.”
Seperti kata Pak Nass, beliau
memang agak narsis, wajar saja bila pertemuan pertama kami banyak sekali kisah
tentang masa lalu yang diceritakan.
Suasana semakin cair ketika satu
per satu teman-teman yang lain hadir. Termasuk Pak Nassirun Purwokartun yang
sedang sakit juga hadir. Soal ini juga ada kesan tersendiri, Pak Nass memang
sudah menyampaikan perihal sakitnya sejak pagi, saya pikir kegiatan sore ini
akan batal tanpa kehadiran beliau. Ternyata saya salah, bahkan ketika beliau
menyampaikan kondisinya tidak memungkinkan untuk berangkat, saya merasa
khawatir acara tidak akan berlangsung optimal tanpa kehadiran Pak Nassirun.
Total kawan Kompilasi yang hadir 6
orang ditambah krucil-krucil yang ikut bundanya belajar menulis. Mbak Susi,
Amrin, Mbak Siti, Sila, Ighna, dan saya. Karena belajar di teras dirasa kurang
nyaman, kami diajak belajar di teras belakang. Melewati ruang tamu, ruang
tengah, halaman belakang dan halaman paling belakang. Sepanjang perjalanan ke
teras belakang, kami melihat aneka koleksi foto beliau, sebuah bukti napak
tilas perjalan hidup seorang Wahyu Mandoko, memuat masa muda, masa jaya, hingga
akhirnya kini menderita stroke.
Pelajaran pertama adalah Pengantar
Teknik Pembuatan Berita. Beliau menyampaikan bahwa dalam sebuah berita, wajib
memuat 5W dan 1H. Istilah piramida terbalik digunakan untuk menunjukkan teknik
menulis 5W 1H, awalnya kami agak bingung dengan maksud piramida terbalik
tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah meletakkan poin-poin penting dalam
berita pada paragraf awal.
Contohnya: Banjir besar melanda
Sumpiuh, kemarin Senin 12 Maret 1995. Merobohkan 45 rumah dan 3 bangunan
sekolah dasar. Hingga hari ini tercatat kerugian sebesar 1,4 milyar rupiah.
Warga mengungsi sementara di Balai Desa.
Paragraf pertama memuat what, when,
where, who, why. Pargaraf berikutnya mempertajam paragraf pertama dengan why
dan how. Berkali-kali di tengah penjelasan beliau menyampaikan bahwa membuat
berita itu mudah. Saya suka sekali bagian ini. Di mana beliau tersenyum sambil
mengangkat sedikit tangan dan mengatakan, “Gampang, gampang sekali.”
“Berita untuk koran harus dibuat
sesingkat dan seluwes mungkin. Tak perlu menggunakan bahasa yang sulit, istilah
yang terlalu sulit dipahami. Harus enak dibaca tukang becak sampai professor.
Orang baca koran itu orang yang tergesa-gesa, cukup dibaca sepintas orang sudah
tahu keseluruhan isi berita.” papar beliau lagi.
Beliau juga menyampaikan beberapa
syarat seseorang menjadi wartawan, di antaranya rajin, cerdas, banyak
pengetahuan, dan yang paling penting bisa menulis. Selain beberapa syarat
tersebut, untuk menulis di media, kita juga harus melihat selera editor.
Caranya dengan mengamati tulisan-tulisan yang banyak dimuat di media tersebut,
melihat selera koran, dan tidak berputus asa ketika berkali-kali tulisan kita
ditolak.
Di sela-sela penjelasan,
berkali-kali beliau berdiskusi dengan Pak Nass tentang beberapa tokoh maupun
peristiwa yang membuat kami roaming. Muchtar Lubis, Poppy Donggo, dan masih
banyak lagi yang disebut. Rasanya jauh sekali jalan yang harus ditempuh untuk
bisa mengimbangi pembicaraan mereka. Namun demikian, saya merasa senang, ada
motivasi setidaknya untuk mulai membaca. Begitu banyak pengetahuan yang belum
terbaca, sementara pengetahuan baru terus bermunculan, dan waktu terus
berjalan.
Banyak sekali pelajaran yang
tersurat maupun yang tersirat dari pertemuan kami hari itu. Tepat sesaat
sebelum adzan Magrib berkumandang, pertemuan kami tutup dengan foto bersama.
Barangkali semua merasakan perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan,
kapan lagi waktu untuk pertemuan berikutnya? Semoga segera!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar