“Suamiku seperti malam di Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada ketakutan dan tidak ada rasa bosan.”
Dulu sekali, ketika aku masih gadis tomboy yang tak begitu suka obrolan seputar ikhwan dan pernikahan, aku punya sebuah gambaran tentang sosok suami dan istri yang ideal, sangat ideal bahkan. Kubayangkan bahwa hubungan istri dan suaminya itu adalah murni hubungan ibadah, di mana istri akan patuh pada suami bukan atas dasar perasaan picisan yang disebut cinta, namun semata karena seorang istri sudah sepatutnya mematuhi suami karena itu adalah perintah Allah. Tak perduli suaminya itu tidak sesuai dengan harapan, asalkan dia beriman, kewajiban istri adalah ta’at. Begitu pun dengan suami dalam bayanganku, dia adalah seseorang yang akan mendidik istrinya untuk ta’at pada Allah, memberi nafkah, juga saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.
Amboiii, sungguh dongeng masa lalu itu selalu membuatku nyengir kuda saat mengingatnya. Bodoh itu memang ada di dunia ini, dan jenisnya juga sangat banyak. Salah satunya adalah mempelajari ilmu tanpa ilmu. Seperti kita yang belajar tafsir Qur’an tanpa nahwu sharaf. Mungkin bisa saja diterjemahkan, tapi kandungan maknanya akan miskin papa.
Begitu cepat segalanya terjadi, aku menikah, punya suami dan menyandang status sebagai seorang istri, rasanya masih risih bila ia menggandengku. Namun tak lebih dari satu menit dia mengucap ijab dan qobul, segalanya telah berubah. Hari itu juga aku diboyong ke rumah kontrakan kami. Malam itu suamiku mengantar adiknya, satu-satunya tamu yang masih tersisa ke stasiun kereta. Aku menunggunya di rumah, sendirian saja. Tanpa kusadari aku tertidur, mungkin karena terlalu lelah. Saat terbangun, aku berpikir sejenak, “Ini dimana? Oh, iya aku sudah menikah, dan ini kan kamar baruku, lalu dimana suamiku? Oh, mungkin masih ke kamar mandi.”
Jam dinding menunjukkan pukul 02.15, aku menunggu ada suara, senyap. Bukankah tadi suamiku mengantar adiknya ke stasiun, dan rumah kukunci dari dalam, lalu aku rebahan sejenak dan aku tertidur lelap, jadi di mana dia? Aku pun panik dan segera mencari handphone, 3 misscall, dari Akh Koco, oh iya itu kan nama suamiku. Akhirnya aku menelepon balik ke nomornya, tak ada jawaban. Tangisku pecah sudah, sejadi-jadinya. Tidur di mana dia? Memalukan sekali, pengantin baru tidur di kos teman? Atau di mushola kompleks? Aku betul-betul bingung.
Kuputuskan untuk mencarinya, tidak bisa tidak, atau setidaknya aku akan melaporkan kejadian ini pada kakakku, meskipun aku tahu ini hal yang memalukan. Aku membuka pintu rumah, dan melihat tubuh itu, tidur di kursi teras, berselimut jaketnya. Ah, tangisku semakin parah.
Begitulah aku melalui malam pertamaku. Aku bersyukur kejadian ini tak pernah terulang lagi. Aku bahkan tak pernah bisa tidur bila suamiku belum pulang. Namun itu bukan berarti aku telah menjadi istri yang ideal seperti yang kubayangkan dulu. Aku malah seringkali berpikir aku istri yang sangat suka “ngeyel”, bahkan untuk urusan mandi pun aku masih suka ngeyel. Aku lebih suka mandi setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, maksudku biar sekalian kotor, tapi suamiku maunya aku mandi sebelum ia berangkat kerja. Sepele dan remeh-temeh, tapi bagiku mandi sebelum mengerjakan semua pekerjaan itu seperti mubazir baju, aku harus ganti baju, bahkan bila perlu mandi lagi. Menurut suamiku tidak masalah ganti baju atau mandi lagi, di lemari banyak baju, di kamar mandi air juga banyak.
Apa ini konsep suami istri ideal yang dulu sering kubayangkan? Untuk urusan mandi saja aku membantah, tapi kan ada alasannya? Ah, Dasar bebal!
Ya, ternyata konsep lillah, hanya mencari ridho Allah, itu bukan perkara mudah. Justru karena itu bukan perkara mudah, maka Allah memberikan sakinah di dalamnya, sebuah ketenangan. Di mana saat-saat ketenangan, perasaan nyaman itu muncul, kita bisa khusyu’ dalam berumah tangga. Menjalani ibadah sebagai istri dengan hati yang tenang. Lalu muncul pula mawaddah, cinta, hal-hal yang membuatku tertarik pada suamiku, yang membuat ibadah terasa menyenangkan, juga membuat pengorbanan terasa ringan. Terlebih saat-saat ada konflik di antara kami, maka mawaddah ini lah yang membuat kami tetap bertahan, sebab perasaan ini membuat kami saling membutuhkan satu sama lain. Juga rahmah, kasih sayang, di mana kadang sosoknya menjadi sangat menyebalkan, tidak pengertian, banyak hal yang tidak aku sukai darinya, tetapi aku sayang. Rahmah ini yang membuatku menatap segala kekurangannya dengan harapan dan doa, sebagaimana ia bersabar dengan segala kekuranganku. Sungguh, menikah memang ibadah yang begitu besar pahalanya. Bahkan bagi seorang istri jaminan surga bila ridho suami ada padanya.
Ah, perjalanan ini masih panjang. Proses belajar dan adu sabar ini masih belum nampak siapa pemenangnya. Namun aku menikmatinya, setiap saat bersamamu, setiap detail proses yang kita lalui. Kekuatan cinta yang kusangka hanya roman picisan, ia justru begitu manusiawi dan mendasar. Bukan tanpa alasan Allah memberikan perasaan itu, ia memang sebuah kemudahan, sebuah karunia, sebuah kekuatan untuk bersama saling memperbaiki, meluruskan tujuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar