Kami berdua sama-sama belum menikah, kami berdua sama-sama jomblo dan tak mau punya pacar, kami berdua menghabiskan waktu bersama, meski jarak ratusan kilometer. Dia meneleponku dari pagi hingga pagi lagi, aku tahu semua aktivitasnya, dia pun tahu semua aktivitasku. Aku bahkan tahu di kantor dia duduk menghadap ke mana, apa warna dinding ruangannya, dan siapa saja nama kawan-kawannya. Obrolan kami tak pernah kehabisan tema, mulai dari urusan pakaian, usaha, jalan-jalan, kuliner, apa saja, dan trending topiknya tentu adalah pernikahan.
“Poy, aku takut kamu menikah duluan.” ujarnya.
“Kenapa? Nggak masalah siapa yang menikah duluan, yang lebih penting kita selalu komunikasi, seperti biasa.”
Saat itu aku sungguh tak mengerti, apa arti sebuah pernikahan, bagaimana kehidupan seseorang yang sudah menikah, dan lebih parah lagi, aku sama sekali tidak merasa bahwa ternyata aku yang harus bersiap untuk ditinggalkan olehnya menikah. Banyak biodata ikhwan yang mampir ke mejaku, tapi entah mengapa ada saja hal-hal yang membuat proses ta’arufku sampai ke tahap berikutnya. Anehnya aku merasa biasa saja, tidak pernah patah hati, tidak pernah kesal, juga tidak merasa rugi. Semua berjalan seperti tak ada persoalan.
Hingga suatu hari, dia menangis dalam sujud panjangnya. Aku menatapnya dari tempat tidurku, sebuah doa terlantun dari hatinya, soal pernikahan. Aku menghela nafas panjang, malam itu aku tak bisa kembali tidur. Saat itu usia kami 25, memang sudah sepantasnya kami menikah. Teman-teman sudah banyak yang menikah, bahkan adik-adik kami di kampus juga sudah banyak yang menikah.
Dia, mungkin tak seberuntung diriku yang berkali-kali ditawari ikhwan, memegang biodata ikhwan saja belum pernah. Dia juga tak seperti gadis lain, yang bisa dengan nyaman ngobrol panjang dengan lawan jenis, dan dia juga tidak mengenal banyak orang, sahabat terdekat sejauh yang aku tahu, hanya aku.
“Soy, yuk kita cari jodoh.” Ujarku memancing obrolan yang lebih dalam dari sekadar bermimpi tentang kriteria pendamping ideal.
“Gimana caranya?” ada antusias di matamu.
“Oke, sekarang ambil kertas dan pulpen.” Mendadak aku sama antusiasnya dengannya.
Dia menuruti setiap kataku, bahkan tanpa pikir panjang bahwa orang yang dihadapannya ini juga belum menikah. Aku memintanya menulis analisa SWOT tentang dirinya sendiri, dan aku minta pula ia menulis semua kriteria pendamping yang dia harapkan, setelah itu aku memintanya menulis daftar apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapat jodoh, perbaikan apa saja yang akan dilakukannya, lalu aku mengoreksi semua jawaban atas pertanyaanku sendiri. Aku bahkan dengan sangat yakin menyampaikan padanya, “Kalo perlu kita datengin ustadz-ustadz, kita titip biodata ke sana!”
Dia tersenyum, wajahnya menyiratkan satu makna, yakin sekali.
Aku memutar otak, bagaimana mungkin aku mencarikan ikhwan untuk sahabatku itu, sementara aku sendiri tak punya banyak kenalan ikhwan. Kalau pun ada, ikhwan kenalanku itu rata-rata punya selera sapi! Tinggi, putih, bermata belo, dan biasanya bodoh! Sahabatku bukan tidak cantik, kulitnya juga putih, tapi matanya begitu kecil, sama sekali tak mirip sapi.
Aku sendiri menuliskan daftar ikhwan kenalanku, yang mungkin sesuai dengan kriteria sahabatku. Aku bahkan membuat analisa SWOT terhadap peluang-peluang yang paling mungkin. Hingga aku menemukan seseorang yang kuanggap tepat. Seorang ikhwan, kawan di kantornya, namanya Ahmad. Ia pria yang berdasarkan cerita sahabatku rajin ke masjid, tidak banyak omong, tapi humoris, penyuka mobil jeep, dan hobi sekali modivikasi. Kupikir dia orang yang tepat.
Bergerak cepat, tak ingin berlama-lama membuat sahabatku menunggu, aku diam-diam mencuri nomor ikhwan itu dari handphone-nya, aku curi pula alamat Facebook-nya, aku juga mencuri foto-foto ikhwan itu, dan kuawasi pula time line facebook-nya. Setelah yakin bahwa ikhwan ini adalah ikhwan yang tepat, aku memberanikan diri mengiriminya surat. Korespondensi kami berjalan lancar, sejauh ini dia cukup terbuka dan mau mengikuti petunjukku. “Baik Akhi, bila memang serius, silahkan besok datang ke alamat ini, dan lamar saja akhwat itu, tapi antum juga harus siap dengan segala konsekuensi baik diterima atau ditolak.” entah apa yang membuatku begitu cepat mengambil langkah, aku hanya berpikir simple saja, bila memang jodoh tokh tidak akan ke mana.
Ikhwan itu mengiyakan, pada hari yang ditentukan dia berangkat ke rumah sahabatku, sementara itu, aku meluncur ke Ibu Kota, menemui sahabatku. “Soy, hari ini Ahmad datang ke rumahmu, dia mau melamar.” ucapku hati-hati, meski demikian, aku tahu pasti, berita ini akan seperti petir di siang bolong. Benar saja, sahabatku tak berhenti ke kamar mandi hingga lebih dari tujuh kali. Aku yang baru datang jauh-jauh dari Purwokerto bahkan tak sempat ditawari makanan olehnya.
Segera kupastikan sahabatku menelepon keluarganya, memastikan ikhwan itu tidak nyasar dan diterima dengan baik. Setelah itu dua bulan kemudian mereka menikah. Sejak saat itu, aku baru merasakan betul, bagaimana menunggu jodoh yang tak kunjung datang.
Kyknya tau siapa? Hihi.. barokallohu fiik syifa.. smg jdi sebuah rmh di surga ^^
BalasHapus