Belum genap setahun Jokowi menjadi Presiden RI, tapi sudah banyak sekali kisruh politik yang muncul di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling menghebohkan adalah Perpres mengenai DP mobil dinas pejabat. Kenaikan DP mobil dinas tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini. Masyarakat yang berada dalam ekonomi sulit di tengah gempuran kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan BBM, justru pemerintah tega memberikan tunjangan lebih kepada para pejabat negara. Rakyat kecil hanya bisa mengeluh melalui mesos saja, hingga ulah Jokowi itu memicu trending topic dunia atas kebijakan absurdnya tersebut.
Sebagai ibu rumah tangga biasa, saya tidak ingin menyorot gejolak dalam masyarakat yang sedang terjadi saat ini. Sebab sudah sejak awal saya tidak mendukung Jokowi menjadi presiden. Apapun perkataan saya tentang Jokowi, bisa dipastikan adalah nada yang menyudutkan, demikian pula perasan saya, pasti adalah perasaan kecewa seorang pendukung capres yang belum move on karena pilihannya tidak jadi presiden.
Saya hanya ingin membuat sebuah perumpamaan dari situasi ini, di mana ada satu masa, suami saya sebagai kepala rumah tangga, pernah tiba-tiba bertanya, "Dek, uang kemaren masih ada?" padahal jelas-jelas dia tahu bagaimana saya membelanjakan uang pemberiannya. Apalagi saya ini ibu rumah tangga yang tak suka nge-mall, apalagi belanja onlen, saya jauh sekali dari sifat hedonis, bahkan cenderung anti kemapanan dan nyaman menggunakan daster bolong-bolong. Bahkan bila dia cukup memperhatikan, sejak tiga tahun menikah, saya hanya membeli baju beberapa kali saja, dan itu pun karena dia yang memaksa saya membeli baju.
Yah, pernyataan Jokowi yang menjadi tajuk dalam sebuah koran berbahasa asing itu, "I dont read what I sign", serupa pernyataan suami saya, yang tiba-tiba bertanya ke mana uang belanja yang dia berikan pada saya. Jelas-jelas dia tahu persis ke mana uang-uang itu mengalir. Belanja makanan, belanja sabun, pulsa, listrik, dll. Bahkan terkadang dia juga meminta kembali uang itu, bila kebetulan sakunya telah kosong karena dia ingin membeli gadget baru.
Tak pelak ucapan suami saya yang bernada mempertanyakan itu langsung membuat emosi saya naik sampai tingkat gawat darurat. Segera saya sampaikan dengan wajah memerah, menahan tangis, "Mas kan tahu, itu sudah dibelanjakan untuk ini dan itu." Tak cukup sampai di sana, saya bahkan berniat untuk mendiamkannya hingga sementara waktu, keributan dalam rumah tangga tak terelakkan lagi, sebetulnya lebih mirip perang dingin ketimbang ribut, meski karena saya tak tahan bila tidur tak dipeluk suami, akhirnya saya mengalah dan memilih membuka obrolan kembali dengan suami. Biar bagaimana pun, dia adalah seseorang yang saya cintai, saya banggakan, dan saya tahu dia mencintai saya.
Bila dalam sekup kecil rumah tangga hal semacam itu sudah membuat masalah sebegitu besar. Apakah rakyat seperti saya harus punya maklum yang besar juga pada Presiden pilihan rakyat. Ah, sudahlah, Jokowi bukan suami saya, bukan pula orang yang saya cintai, bagi saya bahkan tak ada presiden hingga masa jabatan Jokowi selesai.
Jelas sudah tercatat dalam sejarah, Indonesia pernah punya presiden yang berkata, "I dont read what I sign." Siapa yang perduli? Dalam sejarah hidup saya, Indonesia pernah sekali tidak punya presiden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar