Sejak SMP, saya mendapat tugas untuk mengambil uang gajian ibu di bank, karena ibu sedang sakit dan tidak bisa mengambil uang gajinya sendiri. Setiap bulan ibu selalu menyisakan sedikit dari uang gajinya yang sedikit untuk tetap menjadi penghuni tabungan. Saya perhatikan tak hanya uang gaji yang ibu sisakan sedikit, tapi juga uang di dompet meski hanya Rp. 100,-. Pernah suatu kali saya bertanya pada ibu, “Kenapa sih, harus disisain?” jawaban ibu waktu itu terdengar tidak masuk akal, katanya agar uang-uang itu memanggil temannya masuk dompet, saya tidak percaya, tapi kebiasaan menyisakan uang di dompet meski hanya Rp. 100,-, saya tiru sampai sekarang. Namun kebiasaan ibu menyisakan uang gaji di tabungan, itu belum bisa saya ikuti.
Berat sekali rasanya bagi saya untuk tidak menghabiskan seluruh gaji suami, rasanya bahkan gaji yang ada pun kurang banyak. Suatu kali, ibu pernah memberi jawaban yang lebih rasional soal gaji yang disimpan. Beliau bilang ini manajemen telur ayam, dari semua telur yang ada, ibu selalu menyisakan beberapa telur di kandang untuk dierami. Tak harus semuanya diambil, cukup atau tidak cukup harus cukup. Bila kebetulan ayam bertelur lumayan banyak, maka kami bisa makan telur ceplok, tapi bila ayam bertelur sedikit, kami bisa membuat telur dadar dengan campuran aneka sayuran. Kata ibu, kelak telur ayam yang disisakan akan bertelur lagi, dan ayam yang sudah tua bisa disembelih. Sederhana, tapi sangat sesuai dengan logika.
Saya tahu persis apa yang dilakukan ibu dengan uang-uangnya. Ibu seringkali mengajak saya mengobrol, atau mungkin sebetulnya sedang mengobrol dengan dirinya sendiri. Ada buku khusus yang ibu gunakan untuk mencatat setiap belanja harian, kadang saya ikut membaca buku-buku itu, menurut saya ibu sangat kurang kerjaan. Percaya atau tidak, saya bahkan menemukan harga beras masih Rp. 800,- dalam buku ibu. Sejak kapan ibu mencatat semua pengeluarannya? Mungkin sejak saya belum lahir ibu sudah mencatat. Pernah suatu kali ibu kehabisan uang di akhir bulan, beliau curhat ke saya, tak mau minta uang pada bapak, katanya harusnya bapak tahu, kalau ibu sudah tidak memegang uang. Berkali-kali hari itu saya bertanya pada ibu, apa bapak sudah memberi uang, tapi mungkin memang saat itu bapak juga tidak punya uang. Akhirnya saya putuskan untuk mengusulkan pada ibu mengambil uang di bank saja, ibu menolak.
“Uang di bank itu untuk keperluan yang lebih besar.” jawab ibu tegas.
Meskipun tak punya uang, kami sekeluarga tetap makan enak, hidup di desa membuat sayuran melimpah. Ibu menanam beberapa jenis sayuran di kebun kami, untuk lauk yang enak kami bisa saja menyembelih ayam, mengambil telurnya, atau memancing ikan di kolam. Urusan makanan beres, urusan uang saku tidak begitu. Kadang aku dan dua kakakku mendapat uang saku separuh dari yang biasanya kami peroleh. Bila ada keperluan sekolah yang cukup besar, baru ibu menyuruh kami untuk langsung minta pada bapak.
Ketika saya akan memasuki bangku kuliah, kondisi keuangan keluarga tak cukup bagus. Hampir saja bapak meminjam uang di bank, beruntung ibu punya tabungan yang selama ini disimpan di bank. Saya benar-benar tertolong, seluruh uang kuliah di bayar lunas dengan uang tabungan ibu.
Kadang saya heran, ibu saya tidak sama dengan ibu-ibu yang lain, karena secara fisik ibu memiliki keterbatasan, beliau lumpuh selama bertahun-tahun. Namun dalam kondisi demikian, ibu masih bisa menghasilkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Di kamar beliau yang sempit, ibu berjualan baju. Anehnya tetangga berdatangan membeli baju pada ibu, tanpa promosi, tanpa pelayan, mereka dengan senang hati mengambil baju dari etalase, kemudian memasukkannya kembali ke dalam etalase. Selain berjualan baju, ibu juga menjual hasil panen apa saja di rumah, mulai dari pisang, kelapa, jeruk bayi, sawo, bahkan daun singkong. Dibantu asisten rumah tangga kami, ibu mengatur segalanya dari atas kursi roda.
Ketika ibu meninggal, ada satu hal yang membuat kami begitu kaget, hingga tak kuasa menahan air mata. Dalam buku-buku ibu, terselip catatan sedekah bagi beberapa orang tua yang sering berkunjung ke rumah. Bahkan ada beberapa amplop uang dengan nama-nama kecil yang tertera di bagian ujungnya. Saya tahu persis bagaimana pusingnya ibu mengatur keuangan keluarga, tapi masih juga beliau memikirkan orang lain. Sungguh apa yang dilakukan ibu, semua itu adalah sebuah pelajaran manajemen yang tidak saya dapat di bangku sekolah.
Beberapa hari lalu, saat mengikuti talkshow mengenai manajemen keuangan rumah tangga, saya hanya bisa mengenang apa yang telah dilakukan oleh ibu. Menabung, sedekah, membayar hutang, mencatat, menambah sumber income, semua teori yang disampaikan pembicara, ibu saya sudah mempraktekkan bertahun lalu. Ah, semoga bulan ini, dan bulan-bulan berikutnya, saya bisa lebih baik lagi dalam urusan manajemen keuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar