Diary Kompilasi
Sabtu, 21 Maret 2015
Proses Kreatif Menulis Buku
“Menulis itu bukan sekedar menuangkan ide, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan pembaca, sebab menulis adalah industri.”
(Meti Herawati)
Sabtu pagi yang lalu, satu per satu para ibu memasuki ruang pelatihan. Tak terlalu banyak yang hadir mengingat minimnya publikasi dan persiapan, tetapi semangat para pembelajar kentara sekali dalam ruangan. Bu Meti mampu menyedot penuh perhatian para peserta dengan materi yang dibawakannya. Siapa sih yang tak ingin menerbitkan bukunya sendiri? Goal dari setiap penulis, pastinya adalah keinginan untuk menerbitkan buku atau menembus media.
Sebuah pertanyaan menggelitik diajukan oleh Bu Meti, “Mengapa ingin menjadi penulis?” jawaban peserta pun bervariasi, dan di sini Bu Meti memberi sebuah pijakan penting, dengan menyitir sebuah hadist, dari Sahl bin Sa’d Radiallohu Anhu, Rosulullah Sholallohi Alaihi Wassalam bersabda, “Maka demi Allah, sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang saja melalui dirimu, itu adalah lebih baik bagimu daripada kau memiliki unta merah.” (HR Bukhari Muslim). Ya, menulis adalah bagian dari seruan kepada Allah. Sungguh besar pahala yang kita peroleh bila ada seseorang yang mendapat hidayah melalui tulisan kita. Sebuah iming-iming besar sekaligus tanggung jawab yang tak kalah besar atas segala yang kita tuliskan.
Memasuki materi, di awal Bu Meti menjelaskan tentang bagaimana pentingnya sebuah tulisan menjadi solusi bagi pembaca. Bahkan bila perlu diadakan survey terhadap kebutuhan pembaca. Hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca. Hal ini menjadi penting, sebab saat ini menulis merupakan sebuah industri. Bila sebuah buku sepi peminat, maka penerbit tak mau mengambil resiko. Penerbit akan mengutamakan naskah yang memang sesuai dengan permintaan pasar.
Bu Meti mengambil contoh dari buku beliau, Anak Sholeh Kesayangan Orang Tua, buku ini menjadi buku yang cukup fenomenal, karena tingkat penjualannya berada pada poin 8 besar penjualan buku anak. Buku yang diterbitkan oleh penerbit kecil ini mampu bersaing dengan penerbit besar seperti Gramedia. Sampai-sampai marketing dari Gramedia mempelajari buku ini untuk mengetahui kelebihan buku karya Bu Meti tersebut. Dari sisi judul saja buku ini sudah menjual, setiap orang tua tentu ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh, yang patuh, yang berakhlaq mulia. Melihat judulnya, orang tua sebagai penentu kebijakan membeli atau tidak membeli buku, memiliki kepentingan pula untuk membeli buku tersebut.
“Saat ini buku bersaing dengan kebutuhan lain yang semakin mahal, beras, uang SPP dan lain sebagainya, bila tak benar-benar butuh, tentu buku menjadi prioritas nomor sekian.” urai Bu Meti.
Untuk urusan industri ini memang sangat menarik, banyak di antara penulis, khususnya penulis pemula terjebak pada idealisme, namun melupakan kebutuhan pasar. Faktor kepekaan menjadi sangat penting dimiliki penulis. Bagaimana dia mengolah informasi dari lingkungan, melihat peluang dan mengambil kesempatan di saat yang tepat.
Poin berikutnya adalah proses kreatif pembuatan buku itu sendiri, ada 14 poin yang dibahas oleh Bu Meti. Pertama adalah menentukan tema buku, sejak awal penulis harus memetakan tema buku yang akan dibuatnya, menyesuaikan antara tema dengan sumber-sumber yang dimiliki dan kebutuhan masyarakat. Poin ke-2 dan ke-3 adalah Problem Pembaca dan Solusi bagi Pembaca, memahami kebutuhan pembaca akan memepermudah penulis untuk menentukan persoalan yang dialami oleh pembaca sekaligus menentukan solusinya sesuai dengan kebutuhan pembaca. Poin Ke-4 adalah janji buku, jangan sampai ada ketidakselarasan antara keinginan pembaca melihat judul buku dengan isi buku, semacam jaminan mutu bahwa buku ini akan membawa manfaat sesuai dengan persepsi pembaca. Ke-5 adalah Target Pembaca, dimana menentukan segmentasi pembaca akan membantu penulis merangkai kalimat yang sesuai dengan gaya bahasa target pembaca. Ke-6 adalah perkiraan harga buku, ini penting untuk seorang penulis, sehingga ia bisa memperkirakan pula apakah bukunya itu akan laku atau tidak? Atau berapa halaman ia harus menuliskannya, berapa ongkos produksi yang harus dikeluarkan oleh penerbit, bila bukunya terlalu tebal, maka buku itu pun akan mengeluarkan ongkos produksi yang cukup besar, apakah sebanding dengan isi buku. Berikutnya poin ke-7 adalah Proses Interasksi Buku dengan Pembaca, di mana buku harus memiliki interaksi dengan pembaca, di sini dicontohkan dengan buku-buku yang berfungsi sebagai pendamping mata pelajaran tertentu. Berikutnya poin ke-8 adalah Fungsi Utama Buku, apakah buku itu hanya sekadar hiburan, buku motivasi, buku pendamping, literatur, dan banyak lagi fungsi utama buku yang bisa digali oleh seorang penulis. Poin ke-9 adalah feature buku, yang dimaksud di sini adalah pelengkap buku/aksesoris, bisa dengan menambahkan gambar-gambar ilustrasi, kotak pengetahuan, puisi di awal bab, dan lain sebagainya sesuai dengan kreatifitas penulis. Poin ke-10 adalah Desain Buku, di mana penulis menentukan buku itu berbentuk novel, atau buku literatur, atau buku komik, dsb. Point ke-11 adalah Partnership. Seorang penulis dituntut untuk memiliki jaringan yang luas dalam memasarkan buku, bisa bekerjasama dengan sekolah, komunitas, perusahaan/instanti tertentu, dll. Point ke-12 adalah Point Of Difference, di mana penulis harus memiliki keunikan dalam tulisannya, meskipun telah banyak tulisan dengan tema yang sama, tetapi penulis harus mampu membuat tulisannya memiliki nilai lebih bila dibandingkan dengan tulisan yang lain. Point ke-13 adalah cara penulis menarik perhatian pembaca. Apakah itu dengan bentuk buku, jenis kertas, desain cover, warna cover, dll. Terakhir adalah potitioning buku, yang dimaksud di sini adalah label buku tersebut ketika dipamerkan di sebuah showroom buku, apakah itu buku motivasi, jika betul motivasi, maka perlu diperjelas motivasi apa? Apakah motivasi Islami, motivasi keluarga, motivasi bisnis, dll, sehingga penerbit pun tidak kesulitan untuk menentukan posisi buku tersebut.
Hal lain yang dibahas dalam pelatihan Sabtu lalu adalah tentang bagaimana menggali ide sebuah buku. Sumber ide penulisan bisa dari mana saja. Bisa bersumber dari buku-buku best seller, trend yang sedang berlangsung, kombinasi dengan industri lain, pengalaman pribadi, bahkan dari persoalan yang terjadi di sekitar kita, tulisan dari buku lain, bisa juga dilakukan dengan teknik menambah atau mengurangi kata kunci dari sebuah buku lalu membuat versi kita sendiri dengan memberi nilai yang berbeda pada tulisan kita. Setelah sumber-sumber itu jelas, cara agar proses kreatif membuat buku menjadi mudah adalah dengan membuat mind mapping dari buku yang akan kita tulis. Berisi poin-poin proses kreatif di atas.
Pada setiap sesi pemaparan di atas Bu Meti mengajak kami langsung praktek, sehingga begitu selesai pelatihan masing-masing peserta telah memiliki bekal untuk menulis buku. Faktor kemauan dan disiplin memang menjadi kunci utama seorang penulis. Bu Meti juga memberikan gambaran manajemen waktu bagi seorang penulis. Tidak bisa tidak, ketika kita memutuskan menjadi penulis, memang kita harus memiliki waktu khusus untuk menulis. Selain itu kita juga harus memiliki target waktu kapan selesai menuliskan karya. Dengan berusaha menepati dan disiplin pada jadwal yang kita buat, barulah kita bisa menjadi penulis yang sesungguhnya.
Cukup kaget juga ketika dijelaskan oleh Bu Meti, bahwa terkadang menulis satu buah buku waktu yang diberikan penerbit tidak lebih dari 2-3 pekan. Amat jarang penerbit yang memberi waktu hingga 1 bulan. Tentu saja penulis yang sering beralasan, sekalipun itu udzur syar’i bagi penerbit itu bukan urusan penerbit. Penerbit tidak mau tahu dengan urusan kita. Terlebih bila menggunakan agency. Biasanya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah buku akan semakin singkat.
Selain memberikan berbagai informasi seputar penerbitan buku maupun agency buku hingga sistem royalti, Bu Meti juga memberikan kesempatan pada peserta untuk berbagi, mengingat beberapa peserta sudah memiliki pengalaman menulis pula. Ada Mbak Dyah yang seorang penulis cerita anak. Beliau menjelaskan berbagai pelatihan yang beliau ikuti dengan penulis ternama, seperti Kang Ali, Mbak Noerhayati, dan beberapa penulis senior lainnya. Sedangkan Mbak Henny, beliau menceritakan sedikit pengalaman beliau menulis script sinetron. Sungguh luar biasa pengalaman demi pengalaman yang diceritakan oleh teman-teman. Saya sendiri tidak berbagi apapun dengan teman-teman, malah justru minta dibagi. Mengingat Kompilasi belum lama terbentuk dan membutuhkan proses belajar yang panjang, saya berharap teman-teman penulis yang hadir suatu saat kelak bisa berbagi ilmu dengan Kompilasi.
Alhamdulillah, pertemuan yang kurang dari setengah hari itu begitu penuh barokah, padat, lancar, menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Satu poin paling penting yang saya tulis dengan huruf besar dalam hati saya adalah, “FAKTOR ALLAH”, dalam setiap proses menulis, kita harus senantiasa melibatkan faktor Allah. Sebab Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada kita untuk menulis, memberi kita kemampuan merangkai kata, memberi jalan keluar agar tulisan kita sampai pada penerbit, dan memberi rizky pada kita melalui tulisan kita. Maka tak akan bernilai apa pun tulisan kita bila Allah tidak menghendakinya. Sungguh kesadaran ini yang harus ditanamkan dalam jiwa setiap penulis. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah semata, tiada kesombongan, tiada pula patah harapan, sebab Allah selalu punya cara untuk menyayangi hamba-Nya.
Tunggu apa lagi? Mari menulis, sebaik-baiknya!