Rabu, 08 April 2015

Amal Biasa, Luar Biasa


Pernah suatu kali, bapak mengajakku silaturahim ke rumah teman-temannya. Awalnya aku sendiri sangat malas, namun karena bapak memaksa, akhirnya aku pun terpaksa menuruti permintaannya. 

Ternyata kawan yang dimaksud oleh bapak adalah seorang saudagar Arab, namanya Pak Abud. Lantai bawah rumahnya merupakan show room mobil, lantai dua kantor dan lantai tiga baru lah rumah beliau. Khas rumah orang Arab, tamu lelaki dan perempuan punya ruang tamu terpisah. Aku berkesempatan melihat lebih jauh ke dalam rumah Pak Abud. Karpet-karpet impor, lampu lampu kristal besar seperti yang di masjid-masjid, dan aneka hiasan yang belum pernah kulihat sebelumnya menghiasi rumah ini. 

Sejenak menunggu, seorang asisten menemui bapak, “Maaf Pak, apa sudah ada janji sebelumnya?” Tanyanya. “Belum, saya silaturahim saja.” 

“Oh, kalau begitu harus menunggu sampai jam 10. Pak Abud biasanya menyelesaikan tilawah dan Sholat Duha, tidak terima tamu kecuali sudah janjian, tapi kalo mau menunggu silahkan saja.” Terangnya.

Akhirnya, kami memilih berpamitan. Ternyata bapak mengajakku ke rumah temannya yang lain. Sementara bapak asik mengobrol, aku mulai bosan. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, seorang perempuan paruh baya nampak membersihkan masjid besar di samping rumah ini. Ternyata ia istri tuan rumah. Aku heran, sebab bisa saja beliau menyuruh para pegawainya melakukannya. Tapi rupanya ini sudah menjadi kebiasaan, beliau selalu membersihkan masjid jelang waktu sholat, begitu penjelasan yang kuterima.

Jelang Maghrib kami berpamitan. Kupikir tadi adalah destinasi terakhir, tapi bapak mengajakku ke rumah temannya yang lain. Sayang beribu sayang, kedatangan kami kali ini langsung ditolak. Karena empunya rumah tidak terima tamu ba’da Maghrib hingga Isya.

Sepanjang perjalanan pulang, bapak bercerita, semua orang yang kami kunjungi adalah orang sukses, ternyata di balik kesuksesannya mereka punya amal unggulan yang rutin dikerjakan. Sambil menggoda bapak, aku angkat bicara, “Nah, pantes! Bapak sampai sekarang belum sukses!” Sebelum diceramahin, mending aku duluan yang ambil kesimpulan. Kami berdua pun sama-sama terkekeh.

Kongres PDIP, Lagi-lagi di Bali


Kongres PDIP menjadi headline di banyak media nasional. Lagi-lagi Bali menjadi pilihan partai belambang banteng dengan moncong putih ini untuk melaksanakan kongres. Sepertinya para fungsionaris partai dan pendukungnya memang senang sekali dengan Kota Bali.

Bali memang tempat yang indah, pantainya yang luar biasa, juga budaya yang masih kental melekat dengan Bali. Selain anjing-anjing yang berkeliaran dan sampah sesaji, Bali adalah tempat yang nyaman untuk dikunjungi (sambil melirik suami, kapan kita mau plesir ke Bali?). Siapa yang tidak kenal Bali? Bahkan konon Bali itu sendiri lebih terkenal ketimbang Indonesia.

Lain Bali, lain Megawati, semoga kongres PDIP lagi-lagi di Bali, tidak menjadi Kongres PDIP, lagi-lagi Megawati. Terus terang, saya merasa kasihan dengan bu Mega, bayangkan saja, seorang janda, harus memimpin sebuah partai besar seperti PDIP, tak hanya satu periode, tapi nyaris sepanjang berdirinya partai ini, Megawati menjadi tokoh central partai. Saya sampai berpikir, apa tidak lelah bu Mega itu? Atau jangan-jangan memang beliau senang menjadi demikian. Jangan sampai kami yang ada di luar, berpikir PDIP tak punya cukup kader yang mumpuni untuk menggantikan beliau. 

Kita lihat saja, wait and see, apakah akan lagi-lagi Megawati?

Saya berdoa, semoga kongres yang sedianya akan dimulai pada tanggal 9 April 2015 ini, bisa berjalan dengan lancar, banyak keputusan-keputusan besar yang dihasilkan oleh kongres.

(Efek kurang tidur)

"I Dont Read What I Sign"


Belum genap setahun Jokowi menjadi Presiden RI, tapi sudah banyak sekali kisruh politik yang muncul di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling menghebohkan adalah Perpres mengenai DP mobil dinas pejabat. Kenaikan DP mobil dinas tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini. Masyarakat yang berada dalam ekonomi sulit di tengah gempuran kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan BBM, justru pemerintah tega memberikan tunjangan lebih kepada para pejabat negara. Rakyat kecil hanya bisa mengeluh melalui mesos saja, hingga ulah Jokowi itu memicu trending topic dunia atas kebijakan absurdnya tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga biasa, saya tidak ingin menyorot gejolak dalam masyarakat yang sedang terjadi saat ini. Sebab sudah sejak awal saya tidak mendukung Jokowi menjadi presiden. Apapun perkataan saya tentang Jokowi, bisa dipastikan adalah nada yang menyudutkan, demikian pula perasan saya, pasti adalah perasaan kecewa seorang pendukung capres yang belum move on karena pilihannya tidak jadi presiden.

Saya hanya ingin membuat sebuah perumpamaan dari situasi ini, di mana ada satu masa, suami saya sebagai kepala rumah tangga, pernah tiba-tiba bertanya, "Dek, uang kemaren masih ada?" padahal jelas-jelas dia tahu bagaimana saya membelanjakan uang pemberiannya. Apalagi saya ini ibu rumah tangga yang tak suka nge-mall, apalagi belanja onlen, saya jauh sekali dari sifat hedonis, bahkan cenderung anti kemapanan dan nyaman menggunakan daster bolong-bolong. Bahkan bila dia cukup memperhatikan, sejak tiga tahun menikah, saya hanya membeli baju beberapa kali saja, dan itu pun karena dia yang memaksa saya membeli baju.

Yah, pernyataan Jokowi yang menjadi tajuk dalam sebuah koran berbahasa asing itu, "I dont read what I sign", serupa pernyataan suami saya, yang tiba-tiba bertanya ke mana uang belanja yang dia berikan pada saya. Jelas-jelas dia tahu persis ke mana uang-uang itu mengalir. Belanja makanan, belanja sabun, pulsa, listrik, dll. Bahkan terkadang dia juga meminta kembali uang itu, bila kebetulan sakunya telah kosong karena dia ingin membeli gadget baru.

Tak pelak ucapan suami saya yang bernada mempertanyakan itu langsung membuat emosi saya naik sampai tingkat gawat darurat. Segera saya sampaikan dengan wajah memerah, menahan tangis, "Mas kan tahu, itu sudah dibelanjakan untuk ini dan itu." Tak cukup sampai di sana, saya bahkan berniat untuk mendiamkannya hingga sementara waktu, keributan dalam rumah tangga tak terelakkan lagi, sebetulnya lebih mirip perang dingin ketimbang ribut, meski karena saya tak tahan bila tidur tak dipeluk suami, akhirnya saya mengalah dan memilih membuka obrolan kembali dengan suami. Biar bagaimana pun, dia adalah seseorang yang saya cintai, saya banggakan, dan saya tahu dia mencintai saya.

Bila dalam sekup kecil rumah tangga hal semacam itu sudah membuat masalah sebegitu besar. Apakah rakyat seperti saya harus punya maklum yang besar juga pada Presiden pilihan rakyat. Ah, sudahlah, Jokowi bukan suami saya, bukan pula orang yang saya cintai, bagi saya bahkan tak ada presiden hingga masa jabatan Jokowi selesai.

Jelas sudah tercatat dalam sejarah, Indonesia pernah punya presiden yang berkata, "I dont read what I sign." Siapa yang perduli? Dalam sejarah hidup saya, Indonesia pernah sekali tidak punya presiden.


Belajar SEO

Ini ceritanya emak-emak kepo ngerjain suaminya, "Mas, aku minta diajarin bisnis onlen" rengekku pada suami suatu hari. Eh, dianya mau aja aku kerjain, karena training SEO lumayan mahal, kami putuskan untuk buat sendiri training SEO, sekalian belajar jadi EO, sekalian belajar bisnis onlen. Akhirnya jadilah sebuah acara bertajuk Workshop Bisnis Onlen dengan EO aku dan suamiku, seneng rasanya bisa jadi EO bareng suami, itu artinya kami berdua bisa mengerjakan proyek bersama dan kompak (ah, elah...).

Acara lumayan banyak peminat dengan jumlah peserta yang kami batasi hanya 20 orang, akhirnya yang mendaftar ikut ada 24 orang. Kami sengaja cari resto dengan wifi yang lumayan kenceng, supaya peserta yang nggak bawa modem bebas seluncuran di dumay juga. Pembicara yang kami panggil Mba Isah Kambali, orangnya cantik, rempong dan baik hati, tidak sombong, suka menolong... Dia kebetulan temen suamiku di kampus dulu, anak teknik pertanian ngajar SEO, hehe... Dia founder http//www.melekinternet.com, keren lah pokoknya kisah hidup dia sampai bisa jadi trainer SEO ke mana-mana, buat cowok single, dia masih single loh... ups.



Nah, intinya SEO itu gimana caranya orang nyari di google search, produk kita yang nangkring di atas papan pencarian google. Tapi nggak sesimple itu juga sih prosesnya. Pertama kami belajar blog, ini masih dasar banget, karena yang ikut juga banyak emak-emaknya. Menarik ketika mba Isah ngejelasin, untuk nangkring di page one google search, kita kudu nulis langsung artikel yang mau kita share di entri post. Nggak boleh kita pindahin dari word ke entri post, ntar kebaca sama google kalo kita plagiat. Termasuk gambar yang mau kita tampilin, itu juga nggak boleh copas sembarangan di google, karena akan kebaca sama mesin pencari google dan bisa jadi kita bakal dapat label plagiat dari mesin pencari, akhirnya blog kita tenggelam entah ke mana.

Cara masukin gambar di artikel, bisa dari koleksi pribadi kita, bisa juga dengan cara snaping tools, dan cara kedua ini keren banget deh, bahkan akhirnya bisa bikin kreasi gambar macem-macem dengan fasilitas sniping tools.

Selain itu, cara ampuh untuk naikin trafic produk kita di mesin pencarian, adalah dengan mempostingnya di Melek Internet.com, gilingan emang sih, langsung bisa page one google. Bahkan sampai hari ini, masih ada aja yang order catering ke saya, padahal aku kan cuma iseng nulis buka catering, pokoknya seru dan ngefek banget kalo masukin ke melek internet,com.

Terpenting dari semua itu, sebetulnya adalah ternak web, ternak tulisan, dan memelihara web-web tersebut. Intinya kalo punya blog, web, atau apa aja, tiap hari harus dikasih makan, dan ngasih makannya juga nggak boleh kebanyakan, ntar disangka robot sama google. Rajin-rajin nulis gitu Mak!

Pelajaran-pelajaran berikutnya adalah mengenai google plus dan google adsense, juga tentang gimana caranya dapat uang dari Youtube, bikin promo bagus di Youtube dan masih banyak lagi. Yeah, berhubung masih banyak yang harus ditulis dan entar kepanjangan, menyalahi kaidah tulisan onlen, akhirnya nggak dibaca, dan hanya akan membuat hidupmu susah, maka untuk pengetahuan lainnya bakal dibagi di lain kesempatan. Ciayaoooo!

Selasa, 07 April 2015

Jodoh untuk Sahabatku


Kami berdua sama-sama belum menikah, kami berdua sama-sama jomblo dan tak mau punya pacar, kami berdua menghabiskan waktu bersama, meski jarak ratusan kilometer. Dia meneleponku dari pagi hingga pagi lagi, aku tahu semua aktivitasnya, dia pun tahu semua aktivitasku. Aku bahkan tahu di kantor dia duduk menghadap ke mana, apa warna dinding ruangannya, dan siapa saja nama kawan-kawannya. Obrolan kami tak pernah kehabisan tema, mulai dari urusan pakaian, usaha, jalan-jalan, kuliner, apa saja, dan trending topiknya tentu adalah pernikahan.

“Poy, aku takut kamu menikah duluan.” ujarnya.

“Kenapa? Nggak masalah siapa yang menikah duluan, yang lebih penting kita selalu komunikasi, seperti biasa.”

Saat itu aku sungguh tak mengerti, apa arti sebuah pernikahan, bagaimana kehidupan seseorang yang sudah menikah, dan lebih parah lagi, aku sama sekali tidak merasa bahwa ternyata aku yang harus bersiap untuk ditinggalkan olehnya menikah. Banyak biodata ikhwan yang mampir ke mejaku, tapi entah mengapa ada saja hal-hal yang membuat proses ta’arufku sampai ke tahap berikutnya. Anehnya aku merasa biasa saja, tidak pernah patah hati, tidak pernah kesal, juga tidak merasa rugi. Semua berjalan seperti tak ada persoalan.

Hingga suatu hari, dia menangis dalam sujud panjangnya. Aku menatapnya dari tempat tidurku, sebuah doa terlantun dari hatinya, soal pernikahan. Aku menghela nafas panjang, malam itu aku tak bisa kembali tidur. Saat itu usia kami 25, memang sudah sepantasnya kami menikah. Teman-teman sudah banyak yang menikah, bahkan adik-adik kami di kampus juga sudah banyak yang menikah.

Dia, mungkin tak seberuntung diriku yang berkali-kali ditawari ikhwan, memegang biodata ikhwan saja belum pernah. Dia juga tak seperti gadis lain, yang bisa dengan nyaman ngobrol panjang dengan lawan jenis, dan dia juga tidak mengenal banyak orang, sahabat terdekat sejauh yang aku tahu, hanya aku.

“Soy, yuk kita cari jodoh.” Ujarku memancing obrolan yang lebih dalam dari sekadar bermimpi tentang kriteria pendamping ideal.

“Gimana caranya?” ada antusias di matamu.

“Oke, sekarang ambil kertas dan pulpen.” Mendadak aku sama antusiasnya dengannya.

Dia menuruti setiap kataku, bahkan tanpa pikir panjang bahwa orang yang dihadapannya ini juga belum menikah. Aku memintanya menulis analisa SWOT tentang dirinya sendiri, dan aku minta pula ia menulis semua kriteria pendamping yang dia harapkan, setelah itu aku memintanya menulis daftar apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapat jodoh, perbaikan apa saja yang akan dilakukannya, lalu aku mengoreksi semua jawaban atas pertanyaanku sendiri. Aku bahkan dengan sangat yakin menyampaikan padanya, “Kalo perlu kita datengin ustadz-ustadz, kita titip biodata ke sana!”

Dia tersenyum, wajahnya menyiratkan satu makna, yakin sekali.

Aku memutar otak, bagaimana mungkin aku mencarikan ikhwan untuk sahabatku itu, sementara aku sendiri tak punya banyak kenalan ikhwan. Kalau pun ada, ikhwan kenalanku itu rata-rata punya selera sapi! Tinggi, putih, bermata belo, dan biasanya bodoh! Sahabatku bukan tidak cantik, kulitnya juga putih, tapi matanya begitu kecil, sama sekali tak mirip sapi.

Aku sendiri menuliskan daftar ikhwan kenalanku, yang mungkin sesuai dengan kriteria sahabatku. Aku bahkan membuat analisa SWOT terhadap peluang-peluang yang paling mungkin. Hingga aku menemukan seseorang yang kuanggap tepat. Seorang ikhwan, kawan di kantornya, namanya Ahmad. Ia pria yang berdasarkan cerita sahabatku rajin ke masjid, tidak banyak omong, tapi humoris, penyuka mobil jeep, dan hobi sekali modivikasi. Kupikir dia orang yang tepat.

Bergerak cepat, tak ingin berlama-lama membuat sahabatku menunggu, aku diam-diam mencuri nomor ikhwan itu dari handphone-nya, aku curi pula alamat Facebook-nya, aku juga mencuri foto-foto ikhwan itu, dan kuawasi pula time line facebook-nya. Setelah yakin bahwa ikhwan ini adalah ikhwan yang tepat, aku memberanikan diri mengiriminya surat. Korespondensi kami berjalan lancar, sejauh ini dia cukup terbuka dan mau mengikuti petunjukku. “Baik Akhi, bila memang serius, silahkan besok datang ke alamat ini, dan lamar saja akhwat itu, tapi antum juga harus siap dengan segala konsekuensi baik diterima atau ditolak.” entah apa yang membuatku begitu cepat mengambil langkah, aku hanya berpikir simple saja, bila memang jodoh tokh tidak akan ke mana.

Ikhwan itu mengiyakan, pada hari yang ditentukan dia berangkat ke rumah sahabatku, sementara itu, aku meluncur ke Ibu Kota, menemui sahabatku. “Soy, hari ini Ahmad datang ke rumahmu, dia mau melamar.” ucapku hati-hati, meski demikian, aku tahu pasti, berita ini akan seperti petir di siang bolong. Benar saja, sahabatku tak berhenti ke kamar mandi hingga lebih dari tujuh kali. Aku yang baru datang jauh-jauh dari Purwokerto bahkan tak sempat ditawari makanan olehnya.

Segera kupastikan sahabatku menelepon keluarganya, memastikan ikhwan itu tidak nyasar dan diterima dengan baik. Setelah itu dua bulan kemudian mereka menikah. Sejak saat itu, aku baru merasakan betul, bagaimana menunggu jodoh yang tak kunjung datang.

Asyiknya Menulis Resensi

Oleh Muhammad Rasyid Ridho



Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa menulis resensi buku, tidak memiliki keistimewaan. Karena hanya menulis dan mengomentari karya orang. Dulunya saya pun menganggap begitu. Dulu saya menganggap menulis resensi buku tidak wow, ketimbang menulis puisi, cerpen atau artikel di media massa. Saya kadang juga menulis resensi buku, tapi gak sering seperti sekarang. Dulu menulis resensi buku karena iseng setelah baca satu buku, karena buku yang dibaca bagus sekali versi saya.

Ada kakak kelas saya di pondok yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, dapat buku dan fee juga. Saya waktu itu kurang respon. Kemudian ada teman fesbuk seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, bisa dapat buku gratis. Dia memperlihatkan buku-buku yang dia dapatkan secara gratis dari penerbit. Nah dari itu, saya akhirnya penasaran!

Saya pun mencoba menulis resensi buku sekaligus pede mengirimkannya ke media. Setelah beberapa lama, dimuatlah satu persatu, Alhamdulillah. Saya pun ketagihan untuk menulis resensi buku. Ini alasannya, pertama karena dapat buku gratis dari penerbit, kadang lebih dari satu buku bisa sampai lima buku lebih dari satu kali meresensi. Kedua, saya dapat fee baik dari media ataupun penerbit. Bahkan, waktu masih di Malang saya juga dapat honor apresiasi dari Kemahasiswaan. Asyik ya! :D

Selain itu asyiknya meresensi adalah bisa jadi ajang berkenalan dengan penulisnya. Asyiknya juga kenal dengan marketing penerbit, setelah kenal biasanya mereka akan mengundang kita jika ada kegiatan penerbit atau lagi liburan ke tempat yang kita tempati. Beberapa kali saya bertemu dengan marketing penerbit yang lagi ada kegiatan di Malang atau lagi liburan ke Malang. Nggak hanya sekedar bertemu, ngobrol, selfie aja, biasanya juga dapat bingkisan dari mereka. Kadang buku aja, kadang buku plus kaos, cangkir, goodie bag. Asyik kan? :D

Ada lagi nih yang asyik bagi saya, karena menulis resensi buku saya jadi bisa terbang ke Jakarta gratis PP. Waktu itu, tepatnya 22 Desember 2013 saya terpilih jadi pembicara di acara Gagas Media, Kumpul Penulis dan Pembaca 2013. Saya diminta mengisi talkshow tentang menulis resensi buku. Saya nggak nyangka awalnya. Alhamdulillah, rejeki. Asyik nggak nih? :D

Di awal Ramadhan tahun lalu saya juga diundang Penerbit Mizan ke Jakarta untuk menghadiri acara mereka. Saya diberi uang untuk tiket kereta PP. Ini nih rejeki jadi peresensi buku! Saya mulai aktif menulis resensi buku sejak tahun 2012, sampai saat ini buku gratis saya sudah 500an buku lho, Alhamdulillah wa asyik kan? :D

Gimana, pengin menulis resensi buku? Bingung mau nulis resensi itu gimana? Saran saya cob abaca contoh-contoh resensi yang ada di media massa atau blog, Cuma gunakan teori ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Kalau masih sulit, coba Ini nih pengalaman saya dalam menulis resensi:

1. Memilih buku baru untuk diresensi. Misalnya sekarang tahun 2015, kita pilih buku-buku terbitan tahun 2015. Karena semua media cetak hanya memuat resensi buku yang baru. Kalau media online ada juga yang memuat resensi buku-buku lama.

2. Membaca buku sampai selesai dengan teliti dan serius. Jangan sampai ada kata yang terlewatkan. Catat kesalahan tulis kata, EYD, tanda baca. Juga kata-kata atau kalimat yang menarik yang mungkin bisa dijadikan menjadi salah satu paragraf dalam resensi.

3. Selesai membaca segeralah untuk menulis resensinya, agar tidak kedahuluan resensor lain menulis resensi buku yang sama. Ini bukan tidak mungkin, dan ini cukup sering saya alami, kedahuluan orang.

4. Cara saya menulis resensi:

a. Jika buku kumpulan tulisan dengan satu tema sama, saya meringkas semua tulisan itu sebagai isi resensi. Kadang pula saya hanya mengambil beberapa bagian yang menarik untuk saya ceritakan dalam resensi. Jika novel, saya menceritakan dengan singkat isi novel.

b. Karena resensi buku tidak hanya sekedar mereview sebuah buku. Maka di dalamnya juga ada sanjungan kelebihan sebuah buku, kritik dan saran terhadap sebuah buku. Juga perbandingan dengan buku bertema sama yang ditulis penulis lain, buku-buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Termasuk juga resensi resensor lain tentang buku yang kita resensi di media lain mungkin ada kesalahan resensi atau kesalahan pengambilan data dalam buku yang dia resensi, maka kita perbaiki dalam resensi yang kita tulis.

c. Soal judul memang biasanya agak lama saya berfikir mencari yang menarik. Karena kepala tulisan menjadi awal sebuah resensi akan dibaca atau tidak. Biasanya saya mengambil salah satu sub judul di kumpulan tulisan yang saya resensi. Biasanya juga mencari tema pokok sebuah buku yang diracik menjadi judul yang menarik.

5. Setelah jadi kirimlah ke media cetak dahulu, kemudian jika lama tak ada kabar kirimlah ke media online saja. Cukup banyak media online yang menerima naskah resensi dari penulis lepas. Tapi alangkah baiknya, kirim ke media cetak terlebih dahulu, karena banyak sekali media cetak yang menerima resensi saat ini.

6. Nah, bila sudah ada resensi kita yang dimuat di sebuah media, baik cetak atau online. Kirimlah email ke email penerbit buku yang Anda resensi. Dengan isi bahwasanya resensi karya Anda tentang buku terbitan penerbit tersebut dimuat di media blab la bla. Misal ini yang biasanya saya kirim:

Kepada: Yth. Penerbit Metagraf (Tiga Serangkai) Pak Kurniawan. di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bersama ini penulis kirimkan link http://annida-online.com/artikel-6468-pengusaha-emperan-penghasilan-milyaran.html Resensi yang berjudul Pengusaha Emperan Penghasilan Milyaran yang dimuat di Annida Online 19 Desember 2012. Saya sertakan juga softfilenya.

Resensi tersebut merupakan resensi atas buku terbitan Metagraf, yang berjudul: Emperpreuner, karya Wahyu Liz Adaideaja. Besar harapan penulis, pihak Tiga Serangkai dapat melanjutkan kerjasama dibidang peresensian ini. Untuk itu penerbit dapat mengirimkan buku terbitan terbaru kepada penulis untuk diresensi atau dalam bentuk yang lain. Gajah Mada yang 1,2,3 kalau ada boleh yang lain juga. Terima kasih :)

Berikut biodata saya, bila diperlukan:

Muhammad Rasyid Ridho

Alamat Jln Myj Panjaitan No 26 Dabasah Bondowoso Jawa Timur

No Hp: 085933138891



No Rek BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 0202737477

Demikian surat ini penulis sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya penulis sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Salam Hormat, Peresensi,

Muhammad Rasyid Ridho

7. Terakhir, Taraaa! selamat menunggu kiriman buku gratis sampai ke rumah Anda.

Yup, saya kira ini yang bisa saya bagi kepada teman-teman sekalian, silakan jika ada pertanyaan. Jika bisa saya akan jawab :D

Merawat Hijab Tetap Awet



Lagi-lagi jilbab terlihat kusut dan warnanya memudar, sering juga nampak lapisan benang di atas kain mulai lepas. Merawat hijab pada dasarnya sama dengan merawat pakaian sehari-hari. Bila kita tidak telaten dalam perawatannya maka akan cepat rusak dan kusam. Merawat jlbab menjadi lebih penting karena jilbab melekat di bagian atas tubuh kita. Orang akan melihat jilbab kita seperti melihat wajah kita. Maka perawatan jilbab menjadi sesuatu yang harus dilakukan bagi para sahabat muslimah semua agar penampilan muslimah pun memberi kesan yang baik pada orang yang melihatnya.

Pertama yang harus kita lakukan adalah mengamati jenis bahan hijab yang kita beli. Tujuannya agar kita paham apakah bahan tersebut mudah kusut, mudah luntur, atau mudah mengembang. Bahan kaos tentu beda cara perawatannya dengan bahan katun. Namun memang sebaiknya seluruh jilbab tidak dicuci menggunakan mesin cuci atau dicuci dengan menggunakan sikat. Ini karena jilbab biasanya tidak terlalu kotor. Cukup direndam dalam air sabun/shampo lalu kucek sebentar dan angin-anginkan. Pilihan detergent untuk mencuci juga harus disesuaikan dengan warna jilbab. Jangan sampai jilbab kita berubah warna karena salah menggunakan detergen. Menggunakan mesin cuci juga beresiko akan merusak detail hijab, terlebih seringkali ditemukan hijab dengan hiasan payet-payet, lukisan atau pernak-pernik lainnya.

Teknik menjemur hijab juga perlu diperhatikan. Beberapa kain akan menyusut jika dijemur di tempat yang terlalu panas. Jadi sebaiknya cukup diangin-anginkan saja. Untuk hijab kaos yang mudah mengembang/molor, sebaiknya jangan digantung, karena ini akan membuat hijab semakin lama semakin longgar dan tipis.

Untuk menghindari kotoran bekas bedak/make up, sebaiknya gunakan make up sebelum berhijab. Lalu gunakan pula dalaman hijab untuk menjaganya tetap bersih. Bekas make up pada hijab yang membandel dan sulit dihilangkan bisa dihilangkan dengan citrun, citrun akan membantu menghilangkan noda bekas make up tanpa melukai dan mengubah warna hijab.

Supaya hijab tetap awet, hijab juga harus memiliki sirkulasi pemakaian. Bila itu hijab seragam, pastikan setidaknya kita punya lebih dari dua hijab untuk seragam. Bila harus menggunakan peniti atau jarum, pastikan pula ujungnya lancip, sehingga tidak melukai permukaan jilbab. Jangan lupa pula melepasnya ketika sedang merendam atau mencuci, ini untuk menghindari noda karat bekas peniti pada hijab.

Aku dan Suamiku



“Suamiku seperti malam di Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada ketakutan dan tidak ada rasa bosan.”

Dulu sekali, ketika aku masih gadis tomboy yang tak begitu suka obrolan seputar ikhwan dan pernikahan, aku punya sebuah gambaran tentang sosok suami dan istri yang ideal, sangat ideal bahkan. Kubayangkan bahwa hubungan istri dan suaminya itu adalah murni hubungan ibadah, di mana istri akan patuh pada suami bukan atas dasar perasaan picisan yang disebut cinta, namun semata karena seorang istri sudah sepatutnya mematuhi suami karena itu adalah perintah Allah. Tak perduli suaminya itu tidak sesuai dengan harapan, asalkan dia beriman, kewajiban istri adalah ta’at. Begitu pun dengan suami dalam bayanganku, dia adalah seseorang yang akan mendidik istrinya untuk ta’at pada Allah, memberi nafkah, juga saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

Amboiii, sungguh dongeng masa lalu itu selalu membuatku nyengir kuda saat mengingatnya. Bodoh itu memang ada di dunia ini, dan jenisnya juga sangat banyak. Salah satunya adalah mempelajari ilmu tanpa ilmu. Seperti kita yang belajar tafsir Qur’an tanpa nahwu sharaf. Mungkin bisa saja diterjemahkan, tapi kandungan maknanya akan miskin papa.

Begitu cepat segalanya terjadi, aku menikah, punya suami dan menyandang status sebagai seorang istri, rasanya masih risih bila ia menggandengku. Namun tak lebih dari satu menit dia mengucap ijab dan qobul, segalanya telah berubah. Hari itu juga aku diboyong ke rumah kontrakan kami. Malam itu suamiku mengantar adiknya, satu-satunya tamu yang masih tersisa ke stasiun kereta. Aku menunggunya di rumah, sendirian saja. Tanpa kusadari aku tertidur, mungkin karena terlalu lelah. Saat terbangun, aku berpikir sejenak, “Ini dimana? Oh, iya aku sudah menikah, dan ini kan kamar baruku, lalu dimana suamiku? Oh, mungkin masih ke kamar mandi.”

Jam dinding menunjukkan pukul 02.15, aku menunggu ada suara, senyap. Bukankah tadi suamiku mengantar adiknya ke stasiun, dan rumah kukunci dari dalam, lalu aku rebahan sejenak dan aku tertidur lelap, jadi di mana dia? Aku pun panik dan segera mencari handphone, 3 misscall, dari Akh Koco, oh iya itu kan nama suamiku. Akhirnya aku menelepon balik ke nomornya, tak ada jawaban. Tangisku pecah sudah, sejadi-jadinya. Tidur di mana dia? Memalukan sekali, pengantin baru tidur di kos teman? Atau di mushola kompleks? Aku betul-betul bingung.

Kuputuskan untuk mencarinya, tidak bisa tidak, atau setidaknya aku akan melaporkan kejadian ini pada kakakku, meskipun aku tahu ini hal yang memalukan. Aku membuka pintu rumah, dan melihat tubuh itu, tidur di kursi teras, berselimut jaketnya. Ah, tangisku semakin parah.

Begitulah aku melalui malam pertamaku. Aku bersyukur kejadian ini tak pernah terulang lagi. Aku bahkan tak pernah bisa tidur bila suamiku belum pulang. Namun itu bukan berarti aku telah menjadi istri yang ideal seperti yang kubayangkan dulu. Aku malah seringkali berpikir aku istri yang sangat suka “ngeyel”, bahkan untuk urusan mandi pun aku masih suka ngeyel. Aku lebih suka mandi setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, maksudku biar sekalian kotor, tapi suamiku maunya aku mandi sebelum ia berangkat kerja. Sepele dan remeh-temeh, tapi bagiku mandi sebelum mengerjakan semua pekerjaan itu seperti mubazir baju, aku harus ganti baju, bahkan bila perlu mandi lagi. Menurut suamiku tidak masalah ganti baju atau mandi lagi, di lemari banyak baju, di kamar mandi air juga banyak.

Apa ini konsep suami istri ideal yang dulu sering kubayangkan? Untuk urusan mandi saja aku membantah, tapi kan ada alasannya? Ah, Dasar bebal!

Ya, ternyata konsep lillah, hanya mencari ridho Allah, itu bukan perkara mudah. Justru karena itu bukan perkara mudah, maka Allah memberikan sakinah di dalamnya, sebuah ketenangan. Di mana saat-saat ketenangan, perasaan nyaman itu muncul, kita bisa khusyu’ dalam berumah tangga. Menjalani ibadah sebagai istri dengan hati yang tenang. Lalu muncul pula mawaddah, cinta, hal-hal yang membuatku tertarik pada suamiku, yang membuat ibadah terasa menyenangkan, juga membuat pengorbanan terasa ringan. Terlebih saat-saat ada konflik di antara kami, maka mawaddah ini lah yang membuat kami tetap bertahan, sebab perasaan ini membuat kami saling membutuhkan satu sama lain. Juga rahmah, kasih sayang, di mana kadang sosoknya menjadi sangat menyebalkan, tidak pengertian, banyak hal yang tidak aku sukai darinya, tetapi aku sayang. Rahmah ini yang membuatku menatap segala kekurangannya dengan harapan dan doa, sebagaimana ia bersabar dengan segala kekuranganku. Sungguh, menikah memang ibadah yang begitu besar pahalanya. Bahkan bagi seorang istri jaminan surga bila ridho suami ada padanya.

Ah, perjalanan ini masih panjang. Proses belajar dan adu sabar ini masih belum nampak siapa pemenangnya. Namun aku menikmatinya, setiap saat bersamamu, setiap detail proses yang kita lalui. Kekuatan cinta yang kusangka hanya roman picisan, ia justru begitu manusiawi dan mendasar. Bukan tanpa alasan Allah memberikan perasaan itu, ia memang sebuah kemudahan, sebuah karunia, sebuah kekuatan untuk bersama saling memperbaiki, meluruskan tujuan.

Manajemen Telur Ayam


Sejak SMP, saya mendapat tugas untuk mengambil uang gajian ibu di bank, karena ibu sedang sakit dan tidak bisa mengambil uang gajinya sendiri. Setiap bulan ibu selalu menyisakan sedikit dari uang gajinya yang sedikit untuk tetap menjadi penghuni tabungan. Saya perhatikan tak hanya uang gaji yang ibu sisakan sedikit, tapi juga uang di dompet meski hanya Rp. 100,-. Pernah suatu kali saya bertanya pada ibu, “Kenapa sih, harus disisain?” jawaban ibu waktu itu terdengar tidak masuk akal, katanya agar uang-uang itu memanggil temannya masuk dompet, saya tidak percaya, tapi kebiasaan menyisakan uang di dompet meski hanya Rp. 100,-, saya tiru sampai sekarang. Namun kebiasaan ibu menyisakan uang gaji di tabungan, itu belum bisa saya ikuti.

Berat sekali rasanya bagi saya untuk tidak menghabiskan seluruh gaji suami, rasanya bahkan gaji yang ada pun kurang banyak. Suatu kali, ibu pernah memberi jawaban yang lebih rasional soal gaji yang disimpan. Beliau bilang ini manajemen telur ayam, dari semua telur yang ada, ibu selalu menyisakan beberapa telur di kandang untuk dierami. Tak harus semuanya diambil, cukup atau tidak cukup harus cukup. Bila kebetulan ayam bertelur lumayan banyak, maka kami bisa makan telur ceplok, tapi bila ayam bertelur sedikit, kami bisa membuat telur dadar dengan campuran aneka sayuran. Kata ibu, kelak telur ayam yang disisakan akan bertelur lagi, dan ayam yang sudah tua bisa disembelih. Sederhana, tapi sangat sesuai dengan logika.

Saya tahu persis apa yang dilakukan ibu dengan uang-uangnya. Ibu seringkali mengajak saya mengobrol, atau mungkin sebetulnya sedang mengobrol dengan dirinya sendiri. Ada buku khusus yang ibu gunakan untuk mencatat setiap belanja harian, kadang saya ikut membaca buku-buku itu, menurut saya ibu sangat kurang kerjaan. Percaya atau tidak, saya bahkan menemukan harga beras masih Rp. 800,- dalam buku ibu. Sejak kapan ibu mencatat semua pengeluarannya? Mungkin sejak saya belum lahir ibu sudah mencatat. Pernah suatu kali ibu kehabisan uang di akhir bulan, beliau curhat ke saya, tak mau minta uang pada bapak, katanya harusnya bapak tahu, kalau ibu sudah tidak memegang uang. Berkali-kali hari itu saya bertanya pada ibu, apa bapak sudah memberi uang, tapi mungkin memang saat itu bapak juga tidak punya uang. Akhirnya saya putuskan untuk mengusulkan pada ibu mengambil uang di bank saja, ibu menolak.

“Uang di bank itu untuk keperluan yang lebih besar.” jawab ibu tegas.

Meskipun tak punya uang, kami sekeluarga tetap makan enak, hidup di desa membuat sayuran melimpah. Ibu menanam beberapa jenis sayuran di kebun kami, untuk lauk yang enak kami bisa saja menyembelih ayam, mengambil telurnya, atau memancing ikan di kolam. Urusan makanan beres, urusan uang saku tidak begitu. Kadang aku dan dua kakakku mendapat uang saku separuh dari yang biasanya kami peroleh. Bila ada keperluan sekolah yang cukup besar, baru ibu menyuruh kami untuk langsung minta pada bapak.

Ketika saya akan memasuki bangku kuliah, kondisi keuangan keluarga tak cukup bagus. Hampir saja bapak meminjam uang di bank, beruntung ibu punya tabungan yang selama ini disimpan di bank. Saya benar-benar tertolong, seluruh uang kuliah di bayar lunas dengan uang tabungan ibu.

Kadang saya heran, ibu saya tidak sama dengan ibu-ibu yang lain, karena secara fisik ibu memiliki keterbatasan, beliau lumpuh selama bertahun-tahun. Namun dalam kondisi demikian, ibu masih bisa menghasilkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Di kamar beliau yang sempit, ibu berjualan baju. Anehnya tetangga berdatangan membeli baju pada ibu, tanpa promosi, tanpa pelayan, mereka dengan senang hati mengambil baju dari etalase, kemudian memasukkannya kembali ke dalam etalase. Selain berjualan baju, ibu juga menjual hasil panen apa saja di rumah, mulai dari pisang, kelapa, jeruk bayi, sawo, bahkan daun singkong. Dibantu asisten rumah tangga kami, ibu mengatur segalanya dari atas kursi roda.

Ketika ibu meninggal, ada satu hal yang membuat kami begitu kaget, hingga tak kuasa menahan air mata. Dalam buku-buku ibu, terselip catatan sedekah bagi beberapa orang tua yang sering berkunjung ke rumah. Bahkan ada beberapa amplop uang dengan nama-nama kecil yang tertera di bagian ujungnya. Saya tahu persis bagaimana pusingnya ibu mengatur keuangan keluarga, tapi masih juga beliau memikirkan orang lain. Sungguh apa yang dilakukan ibu, semua itu adalah sebuah pelajaran manajemen yang tidak saya dapat di bangku sekolah.

Beberapa hari lalu, saat mengikuti talkshow mengenai manajemen keuangan rumah tangga, saya hanya bisa mengenang apa yang telah dilakukan oleh ibu. Menabung, sedekah, membayar hutang, mencatat, menambah sumber income, semua teori yang disampaikan pembicara, ibu saya sudah mempraktekkan bertahun lalu. Ah, semoga bulan ini, dan bulan-bulan berikutnya, saya bisa lebih baik lagi dalam urusan manajemen keuangan.

Diskusi Adalah Bagian dari Pembelajaran



Diary Kompilasi
27 Maret 2015

"Diskusi adalah bagian dari pembelajaran."
-Nassirun Purwokartun-




Dikisahkan ada seorang remaja belia yang gemar mengetuk pintu rumah para sahabat Rosulullah Sholallohu Alaihi Wasalam, satu per satu ia datangi para sahabat untuk bertanya akan banyak hal. Semangatnya menimba ilmu sungguh besar, tak jarang ia tertidur di muka pintu rumah para sahabat, demi menunggu si empunya rumah dan mengajaknya berdiskusi.

“Wahai keponakan Rosulullah, mengapa tidak kami saja yang datang menemuimu, untuk menimba ilmu darimu?” ujar para sahabat.

“Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda.” jawabnya

Pemuda belia itu bernama Abdullah Ibnu Abbas, hingga ia tumbuh menjadi seorang yang faqih dalam tafsir dan agama. Para sahabat seringkali bertanya padanya, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu seperti itu wahai Ibnu Abbas?”

“Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berpikir.”

Umar bin Khatab Radhiallohu Anhu bahkan menjadikan pemuda ini patner diskusinya. Beliau senantiasa memanggil Ibnu Abbas untuk duduk di majelisnya dan menyimak setiap pendapat Ibnu Abbas dalam banyak persoalan. Bahkan Umar menjulukinya “Pemuda tua”.

Kebiasaan diskusi adalah warisan para nabi dan rosul. Rosulullah Sholallohu Alaihi Wa salam selalu memberikan kesempatan diskusi pada para sahabat. Begitu antusias para sahabat mendengarkan penjelasan Rosulullah, dan mereka gemar sekali bertanya. Pertanyaan mereka akan mempertajam pengetahuan. Tak hanya itu, dengan berdiskusi amat banyak inspirasi yang muncul, peluang kita untuk menjadi inspirasi bagi kawan yang lain, selain itu diskusi juga mengasah kepekaan kita terhadap inovasi dan pengetahuan baru, serta masih banyak lagi manfaat dari berdiskusi yang bisa kita peroleh.

Hari ini berada 14 abad jauh dari masa-masa para penuntut ilmu itu berada, budaya diskusi mulai terkikis dari kebiasaan para pemuda Islam. Ilmu seringkali menjadi barang tabu yang tak boleh menjadi bahan diskusi, sehingga pengetahuan hanya sebatas pada apa yang diberikan oleh guru pada muridnya. Ada tiga kemungkinan dalam hal ini, kemalasan sang murid untuk berpikir dan bertanya sehingga merasa cukup dengan ajaran gurunya, atau barangkali sang guru tak memberi kesempatan pada muridnya untuk berdiskusi. Kemungkinan terakhir adalah karena merasa cukup dengan banyaknya informasi yang ada, terlebih saat ini adalah era informasi, di mana kita bisa langsung bertanya pada guru besar seluruh bangsa yaitu Google. Padahal ada banyak sekali pengetahuan yang harus kita saring dari Google, dan hal itu hanya bisa kita lakukan dengan cukupnya ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Ironisnya, di kala kita enggan dan malu-malu untuk berdiskusi, kebiasaan baik ini justru telah sekian lama menjadi kebiasaan para pejuang kebathilan. Pernah satu ketika saya dikejutkan sebuah pengalaman yang luar biasa, sekelompok pemuda duduk melingkar tengah malam buta di sebuah warung tenda. Saya pikir itu adalah tongkrongan biasa yang hanya dilakukan untuk membuang jenuh dan sebagai hiburan akhir pekan. Namun ternyata saya salah, mereka justru berbicara banyak hal, pendidikan, politik, strategi, budaya, dan banyak lagi. Sayangnya saya paham betul, apa yang mereka bicarakan arahnya adalah pada pemisahan agama dengan aspek-aspek kehidupan. Bagaimana mereka begitu bersemangat untuk membuat analisis akan sebuah persoalan, mengulitinya sampai tidak tersisa, hingga muncul ide-ide luar biasa yang menyeramkan bagi saya, tapi bagi mereka adalah sebuah penemuan.

Apakah memang mereka yang berhak mewarisi budaya diskusi para nabi? Tanya saya dalam hati.

Kita bersyukur, karena dalam setiap kesempatan, guru kita Pak Nassirun, Komunitas Soto Babat, dan para guru yang dihadirkan di majelis Kompilasi, berkenan membuka pintu ilmu seluas-luasnya. Mereka siap memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Namun sayang sekali, seringkali peluang itu terlewatkan karena keengganan kita untuk bertanya dan berdiskusi, menggali lebih dalam materi-materi yang disampaikan, jiwa kritis kita seolah mati.

Barangkali semangat kita menuntut ilmu memang jauh dari Abdullah Ibnu Abbas, sebab niatan kita memang belum sekokoh niat yang terpancang dalam hati Ibnu Abbas. Bila menulis telah menjadi bagian dari ibadah, menjadi sebuah jalan dakwah yang kita pilih, tentulah kesempatan ini menjadi sebuah kesempatan yang sangat besar bagi kita untuk menggali ilmu lebih dalam lagi dari para guru. Semoga kisah Ibnu Abbas di atas, mampu menjadi pemantik motivasi, agar peribadatan tinta dan dakwah bil qolam yang akan kita jalani, bukan lagi sekadar pilihan, tapi juga sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan.

Bismillah, luruskan niat, rapatkan barisan, sempurnakan ikhtiar.

Senin, 06 April 2015

Belajar Jurnalistik Pada Wahyu Mandoko #Part1

Diary Kompilasi
Kamis, 19 Maret 2015
“Jiwa saya adalah menulis berita.”
Wahyu Mandoko



“Saya kesulitan berbicara, suarane ora genah.” ujar pria itu.

Saya tidak menangkap sedikit pun ”suara ora genah” yang dimaksudnya. Sejauh obrolan kami selama lebih dari 5 menit, kesan yang saya dapat adalah satu, pandangan mata yang cemerlang. Mata yang penuh pengetahuan.

“Katanya 10 orang, ini kok cuma 2 orang, Nasirun nglombo lah!” kali ini ada sedikit kecewa dalam ucapannya. Sontak saya merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, memang baru 2 orang yang hadir.

“Saya tunggu dari jam 3.” kalimat ini semakin membuat saya merasa bersalah.

Rasa bersalah semakin membuncah, ketika beliau menyindir halus dengan cerita Dahlan Iskan saja dibuatnya menunggu. Duh, saya semakin grogi.

Pria itu adalah Wahyu Mandoko, mantan wartawan senior di Suara Pembaruan. Tak banyak yang kami tahu soal beliau, bukan karena beliau bukan seorang pesohor, namanya saja tercantum dalam Wikipedia, hanya pengetahuan kami saja yang masih lebih rendah daripada kuku hitam. Saya dan Mbak Susi memutuskan untuk menggunakan fasilitas Google Search untuk mengenal sekilas tentang Pak Wahyu Mandoko.

Mungkin karena menangkap kesan kami termasuk golongan Islam garis keras, beliau sedikit mengupas tentang kisah bosnya, Bapak Albert Hasibuan. “Saya sudah siap itu, pakai baju rapi sekali, mau wawancara dengan Menteri, lalu saya dihadang oleh karyawan, Bos itu mushola sudah tidak layak pakai. Ini karena yang memakai itu sopir, karyawan-karyawan, mushola kotor sekali, bau lah. Akhirnya saya segera menemui bos besar. Waktu itu bos besar sedang seneng-senengnya punya laptop baru, sampai-sampai ketika saya menyampaikan itu dia tidak menoleh sedikitpun. Saya dendam sekali, dalam hati suatu saat kalau ada kesempatan, akan saya pukuli orang ini.”

Untung kami tidak terpancing emosi dan tetap pasang senyum sejuk di wajah, karena kelanjutan ceritanya memang sudah bisa di tebak, “Nah, pulang dari ketemu menteri, itu hanya beberapa jam saja, jam 2 lah saya balik ke kantor, saya dihadang lagi oleh karyawan, mereka bersalaman dan mengucapkan terimakasih. Katanya mushola sudah rapi, karpet sudah diganti, kran sudah diperbaiki. Saya jadi merasa bersalah, ternyata bos saya yang orang Kristen mau melakukan semua itu. Saya jadi merasa bersalah sekali karena tadi sudah berniat mau njotosi.”

Seperti kata Pak Nass, beliau memang agak narsis, wajar saja bila pertemuan pertama kami banyak sekali kisah tentang masa lalu yang diceritakan.

Suasana semakin cair ketika satu per satu teman-teman yang lain hadir. Termasuk Pak Nassirun Purwokartun yang sedang sakit juga hadir. Soal ini juga ada kesan tersendiri, Pak Nass memang sudah menyampaikan perihal sakitnya sejak pagi, saya pikir kegiatan sore ini akan batal tanpa kehadiran beliau. Ternyata saya salah, bahkan ketika beliau menyampaikan kondisinya tidak memungkinkan untuk berangkat, saya merasa khawatir acara tidak akan berlangsung optimal tanpa kehadiran Pak Nassirun.

Total kawan Kompilasi yang hadir 6 orang ditambah krucil-krucil yang ikut bundanya belajar menulis. Mbak Susi, Amrin, Mbak Siti, Sila, Ighna, dan saya. Karena belajar di teras dirasa kurang nyaman, kami diajak belajar di teras belakang. Melewati ruang tamu, ruang tengah, halaman belakang dan halaman paling belakang. Sepanjang perjalanan ke teras belakang, kami melihat aneka koleksi foto beliau, sebuah bukti napak tilas perjalan hidup seorang Wahyu Mandoko, memuat masa muda, masa jaya, hingga akhirnya kini menderita stroke.

Pelajaran pertama adalah Pengantar Teknik Pembuatan Berita. Beliau menyampaikan bahwa dalam sebuah berita, wajib memuat 5W dan 1H. Istilah piramida terbalik digunakan untuk menunjukkan teknik menulis 5W 1H, awalnya kami agak bingung dengan maksud piramida terbalik tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah meletakkan poin-poin penting dalam berita pada paragraf awal.

Contohnya: Banjir besar melanda Sumpiuh, kemarin Senin 12 Maret 1995. Merobohkan 45 rumah dan 3 bangunan sekolah dasar. Hingga hari ini tercatat kerugian sebesar 1,4 milyar rupiah. Warga mengungsi sementara di Balai Desa.

Paragraf pertama memuat what, when, where, who, why. Pargaraf berikutnya mempertajam paragraf pertama dengan why dan how. Berkali-kali di tengah penjelasan beliau menyampaikan bahwa membuat berita itu mudah. Saya suka sekali bagian ini. Di mana beliau tersenyum sambil mengangkat sedikit tangan dan mengatakan, “Gampang,  gampang sekali.”

“Berita untuk koran harus dibuat sesingkat dan seluwes mungkin. Tak perlu menggunakan bahasa yang sulit, istilah yang terlalu sulit dipahami. Harus enak dibaca tukang becak sampai professor. Orang baca koran itu orang yang tergesa-gesa, cukup dibaca sepintas orang sudah tahu keseluruhan isi berita.” papar beliau lagi.

Beliau juga menyampaikan beberapa syarat seseorang menjadi wartawan, di antaranya rajin, cerdas, banyak pengetahuan, dan yang paling penting bisa menulis. Selain beberapa syarat tersebut, untuk menulis di media, kita juga harus melihat selera editor. Caranya dengan mengamati tulisan-tulisan yang banyak dimuat di media tersebut, melihat selera koran, dan tidak berputus asa ketika berkali-kali tulisan kita ditolak.

Di sela-sela penjelasan, berkali-kali beliau berdiskusi dengan Pak Nass tentang beberapa tokoh maupun peristiwa yang membuat kami roaming. Muchtar Lubis, Poppy Donggo, dan masih banyak lagi yang disebut. Rasanya jauh sekali jalan yang harus ditempuh untuk bisa mengimbangi pembicaraan mereka. Namun demikian, saya merasa senang, ada motivasi setidaknya untuk mulai membaca. Begitu banyak pengetahuan yang belum terbaca, sementara pengetahuan baru terus bermunculan, dan waktu terus berjalan.


Banyak sekali pelajaran yang tersurat maupun yang tersirat dari pertemuan kami hari itu. Tepat sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang, pertemuan kami tutup dengan foto bersama. Barangkali semua merasakan perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan, kapan lagi waktu untuk pertemuan berikutnya? Semoga segera!

Proses Kreatif Menulis Buku



Diary Kompilasi
Sabtu, 21 Maret 2015
Proses Kreatif Menulis Buku


“Menulis itu bukan sekedar menuangkan ide, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan pembaca, sebab menulis adalah industri.” 
(Meti Herawati)



Sabtu pagi yang lalu, satu per satu para ibu memasuki ruang pelatihan. Tak terlalu banyak yang hadir mengingat minimnya publikasi dan persiapan, tetapi semangat para pembelajar kentara sekali dalam ruangan. Bu Meti mampu menyedot penuh perhatian para peserta dengan materi yang dibawakannya. Siapa sih yang tak ingin menerbitkan bukunya sendiri? Goal dari setiap penulis, pastinya adalah keinginan untuk menerbitkan buku atau menembus media.

Sebuah pertanyaan menggelitik diajukan oleh Bu Meti, “Mengapa ingin menjadi penulis?” jawaban peserta pun bervariasi, dan di sini Bu Meti memberi sebuah pijakan penting, dengan menyitir sebuah hadist, dari Sahl bin Sa’d Radiallohu Anhu, Rosulullah Sholallohi Alaihi Wassalam bersabda, “Maka demi Allah, sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang saja melalui dirimu, itu adalah lebih baik bagimu daripada kau memiliki unta merah.” (HR Bukhari Muslim). Ya, menulis adalah bagian dari seruan kepada Allah. Sungguh besar pahala yang kita peroleh bila ada seseorang yang mendapat hidayah melalui tulisan kita. Sebuah iming-iming besar sekaligus tanggung jawab yang tak kalah besar atas segala yang kita tuliskan.

Memasuki materi, di awal Bu Meti menjelaskan tentang bagaimana pentingnya sebuah tulisan menjadi solusi bagi pembaca. Bahkan bila perlu diadakan survey terhadap kebutuhan pembaca. Hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca. Hal ini menjadi penting, sebab saat ini menulis merupakan sebuah industri. Bila sebuah buku sepi peminat, maka penerbit tak mau mengambil resiko. Penerbit akan mengutamakan naskah yang memang sesuai dengan permintaan pasar.

Bu Meti mengambil contoh dari buku beliau, Anak Sholeh Kesayangan Orang Tua, buku ini menjadi buku yang cukup fenomenal, karena tingkat penjualannya berada pada poin 8 besar penjualan buku anak. Buku yang diterbitkan oleh penerbit kecil ini mampu bersaing dengan penerbit besar seperti Gramedia. Sampai-sampai marketing dari Gramedia mempelajari buku ini untuk mengetahui kelebihan buku karya Bu Meti tersebut. Dari sisi judul saja buku ini sudah menjual, setiap orang tua tentu ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh, yang patuh, yang berakhlaq mulia. Melihat judulnya, orang tua sebagai penentu kebijakan membeli atau tidak membeli buku, memiliki kepentingan pula untuk membeli buku tersebut. 

“Saat ini buku bersaing dengan kebutuhan lain yang semakin mahal, beras, uang SPP dan lain sebagainya, bila tak benar-benar butuh, tentu buku menjadi prioritas nomor sekian.” urai Bu Meti.

Untuk urusan industri ini memang sangat menarik, banyak di antara penulis, khususnya penulis pemula terjebak pada idealisme, namun melupakan kebutuhan pasar. Faktor kepekaan menjadi sangat penting dimiliki penulis. Bagaimana dia mengolah informasi dari lingkungan, melihat peluang dan mengambil kesempatan di saat yang tepat.

Poin berikutnya adalah proses kreatif pembuatan buku itu sendiri, ada 14 poin yang dibahas oleh Bu Meti. Pertama adalah menentukan tema buku, sejak awal penulis harus memetakan tema buku yang akan dibuatnya, menyesuaikan antara tema dengan sumber-sumber yang dimiliki dan kebutuhan masyarakat. Poin ke-2 dan ke-3 adalah Problem Pembaca dan Solusi bagi Pembaca, memahami kebutuhan pembaca akan memepermudah penulis untuk menentukan persoalan yang dialami oleh pembaca sekaligus menentukan solusinya sesuai dengan kebutuhan pembaca. Poin Ke-4 adalah janji buku, jangan sampai ada ketidakselarasan antara keinginan pembaca melihat judul buku dengan isi buku, semacam jaminan mutu bahwa buku ini akan membawa manfaat sesuai dengan persepsi pembaca. Ke-5 adalah Target Pembaca, dimana menentukan segmentasi pembaca akan membantu penulis merangkai kalimat yang sesuai dengan gaya bahasa target pembaca. Ke-6 adalah perkiraan harga buku, ini penting untuk seorang penulis, sehingga ia bisa memperkirakan pula apakah bukunya itu akan laku atau tidak? Atau berapa halaman ia harus menuliskannya, berapa ongkos produksi yang harus dikeluarkan oleh penerbit, bila bukunya terlalu tebal, maka buku itu pun akan mengeluarkan ongkos produksi yang cukup besar, apakah sebanding dengan isi buku. Berikutnya poin ke-7 adalah Proses Interasksi Buku dengan Pembaca, di mana buku harus memiliki interaksi dengan pembaca, di sini dicontohkan dengan buku-buku yang berfungsi sebagai pendamping mata pelajaran tertentu. Berikutnya poin ke-8 adalah Fungsi Utama Buku, apakah buku itu hanya sekadar hiburan, buku motivasi, buku pendamping, literatur, dan banyak lagi fungsi utama buku yang bisa digali oleh seorang penulis. Poin ke-9 adalah feature buku, yang dimaksud di sini adalah pelengkap buku/aksesoris, bisa dengan menambahkan gambar-gambar ilustrasi, kotak pengetahuan, puisi di awal bab, dan lain sebagainya sesuai dengan kreatifitas penulis. Poin ke-10 adalah Desain Buku, di mana penulis menentukan buku itu berbentuk novel, atau buku literatur, atau buku komik, dsb. Point ke-11 adalah Partnership. Seorang penulis dituntut untuk memiliki jaringan yang luas dalam memasarkan buku, bisa bekerjasama dengan sekolah, komunitas, perusahaan/instanti tertentu, dll. Point ke-12 adalah Point Of Difference, di mana penulis harus memiliki keunikan dalam tulisannya, meskipun telah banyak tulisan dengan tema yang sama, tetapi penulis harus mampu membuat tulisannya memiliki nilai lebih bila dibandingkan dengan tulisan yang lain. Point ke-13 adalah cara penulis menarik perhatian pembaca. Apakah itu dengan bentuk buku, jenis kertas, desain cover, warna cover, dll. Terakhir adalah potitioning buku, yang dimaksud di sini adalah label buku tersebut ketika dipamerkan di sebuah showroom buku, apakah itu buku motivasi, jika betul motivasi, maka perlu diperjelas motivasi apa? Apakah motivasi Islami, motivasi keluarga, motivasi bisnis, dll, sehingga penerbit pun tidak kesulitan untuk menentukan posisi buku tersebut.

Hal lain yang dibahas dalam pelatihan Sabtu lalu adalah tentang bagaimana menggali ide sebuah buku. Sumber ide penulisan bisa dari mana saja. Bisa bersumber dari buku-buku best seller, trend yang sedang berlangsung, kombinasi dengan industri lain, pengalaman pribadi, bahkan dari persoalan yang terjadi di sekitar kita, tulisan dari buku lain, bisa juga dilakukan dengan teknik menambah atau mengurangi kata kunci dari sebuah buku lalu membuat versi kita sendiri dengan memberi nilai yang berbeda pada tulisan kita. Setelah sumber-sumber itu jelas, cara agar proses kreatif membuat buku menjadi mudah adalah dengan membuat mind mapping dari buku yang akan kita tulis. Berisi poin-poin proses kreatif di atas.

Pada setiap sesi pemaparan di atas Bu Meti mengajak kami langsung praktek, sehingga begitu selesai pelatihan masing-masing peserta telah memiliki bekal untuk menulis buku. Faktor kemauan dan disiplin memang menjadi kunci utama seorang penulis. Bu Meti juga memberikan gambaran manajemen waktu bagi seorang penulis. Tidak bisa tidak, ketika kita memutuskan menjadi penulis, memang kita harus memiliki waktu khusus untuk menulis. Selain itu kita juga harus memiliki target waktu kapan selesai menuliskan karya. Dengan berusaha menepati dan disiplin pada jadwal yang kita buat, barulah kita bisa menjadi penulis yang sesungguhnya.

Cukup kaget juga ketika dijelaskan oleh Bu Meti, bahwa terkadang menulis satu buah buku waktu yang diberikan penerbit tidak lebih dari 2-3 pekan. Amat jarang penerbit yang memberi waktu hingga 1 bulan. Tentu saja penulis yang sering beralasan, sekalipun itu udzur syar’i bagi penerbit itu bukan urusan penerbit. Penerbit tidak mau tahu dengan urusan kita. Terlebih bila menggunakan agency. Biasanya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah buku akan semakin singkat.

Selain memberikan berbagai informasi seputar penerbitan buku maupun agency buku hingga sistem royalti, Bu Meti juga memberikan kesempatan pada peserta untuk berbagi, mengingat beberapa peserta sudah memiliki pengalaman menulis pula. Ada Mbak Dyah yang seorang penulis cerita anak. Beliau menjelaskan berbagai pelatihan yang beliau ikuti dengan penulis ternama, seperti Kang Ali, Mbak Noerhayati, dan beberapa penulis senior lainnya. Sedangkan Mbak Henny, beliau menceritakan sedikit pengalaman beliau menulis script sinetron. Sungguh luar biasa pengalaman demi pengalaman yang diceritakan oleh teman-teman. Saya sendiri tidak berbagi apapun dengan teman-teman, malah justru minta dibagi. Mengingat Kompilasi belum lama terbentuk dan membutuhkan proses belajar yang panjang, saya berharap teman-teman penulis yang hadir suatu saat kelak bisa berbagi ilmu dengan Kompilasi.

Alhamdulillah, pertemuan yang kurang dari setengah hari itu begitu penuh barokah, padat, lancar, menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Satu poin paling penting yang saya tulis dengan huruf besar dalam hati saya adalah, “FAKTOR ALLAH”, dalam setiap proses menulis, kita harus senantiasa melibatkan faktor Allah. Sebab Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada kita untuk menulis, memberi kita kemampuan merangkai kata, memberi jalan keluar agar tulisan kita sampai pada penerbit, dan memberi rizky pada kita melalui tulisan kita. Maka tak akan bernilai apa pun tulisan kita bila Allah tidak menghendakinya. Sungguh kesadaran ini yang harus ditanamkan dalam jiwa setiap penulis. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah semata, tiada kesombongan, tiada pula patah harapan, sebab Allah selalu punya cara untuk menyayangi hamba-Nya.

Tunggu apa lagi? Mari menulis, sebaik-baiknya!

Terimakasih Tikus Kecil

Pagi ini, aku berencana mengganti semua sprei di rumah. Aku dan suamiku tinggal berdua saja. Meskipun demikian, bapakku selalu datang menengok ke rumah setiap hari. Beberapa hari lalu aku terkena flu, dan karena kami cuma tinggal berdua saja, dengan rumah yang terdiri dari 3 kamar tidur, aku bisa tidur di mana saja, sesukaku. Akibatnya, begitu aku sembuh, semua sprei harus diganti, selain memang kupikir sudah waktunya diganti.

Aku punya lemari khusus di kamar belakang untuk menyimpan sprei. Lemari tua peninggalan ibuku, aku meletakkannya di ruang setrika, kamar paling belakang di rumah ini. Kamar yang paling jarang kukunjungi dan kondisinya lebih mirip gudang cucian, karena sejujurnya aku amat jarang menyetrika baju. Parahnya cucian itu dibiarkan menggunung di atas sebuah dipan kecil dalam ruangan. Betul-betul seperti gunung. Aku hanya menyetrika beberapa baju saja untuk bepergian, sisanya aku bahkan tak perduli. Hingga stok baju dalam lemari habis, aku baru kembali ke kamar itu, dan memanggil seseorang untuk membantuku menyetrika seluruh baju yang ada di kamar itu.

Hari ini, ketika membuka pintu lemari, aku melihat makhluk hitam kecil menyembunyikan dirinya dari pandanganku, matanya menatapku penuh kegelisahan, sementara tubuh kecilnya terus berusaha merangsek ke dalam. Tikus, aku benci tikus, sangat membencinya. Aku bukan Cinderella yang bisa bermain bersama tikus untuk menunjukkan kebaikan hati. Seketika itu pula aku berteriak, "Mas, ada tikus!"


Aku terus berteriak hingga suamiku datang, aku terus mengawasi makhluk kecil itu yang semakin waspada. Suamiku dengan sigap mengambil sebilah pipa paralon, menyuruhku ke luar dan menutup pintu kamar. Aku mendengar semuanya, dia berjibaku dengan tikus-tikus itu, suara klontang-klanteng terdengar dari luar. Lalu dia menyuruhku mengambil plastik untuk membungkus mayat-mayat tikus itu. Aku begidik, tapi sekaligus bersyukur, untuk sejenak mengeluh, melihat sprei-spreiku sudah terkena tikus.

Aku menghela nafas panjang. Aku harus mencucinya kembali, dan lebih memperhatikan ruangan ini. Gunungan cucian itu, sisi-sisi jendela yang tak tertutup dengan sempurna, juga sarang laba-laba di sudut langit-langit kamar. Aku betul-betul harus membereskannya. Sementara pikiranku melayang pada pekerjaan harianku yang lain.

Balada tinggal di rumah induk yang besar, sungguh sebuah epik yang sulit untuk kuhindari. Rumah yang dulu begitu rapi ketika ibuku masih hidup. Ketika masih riuh dengan keributanku dan dua orang kakakku, ketika masih ada seorang pembantu yang selalu siaga membereskan seluruh sudut ruangan. Sementara kini aku harus mengerjakannya sendiri. Aku ingin mengeluh, tapi terlalu malu.

Berbeda dengan perempuan lain yang memiliki anak, tentu mereka ada alasan untuk memiliki seorang pembantu, tapi aku begitu bebas, ibu rumah tangga biasa yang tak punya jadwal pekerjaan tetap seperti ibu bekerja, aku juga punya suami yang sangat toleran dengan kemalasanku, terkadang aku bahkan hanya melewatkan hari dengan membaca buku.

Ya, ada yang harus diubah dalam manajemen hidup seorang ibu rumah tangga, khususnya aku. Dan tikus menyebalkan itu, adalah alarm pemantik kesadaran, dia datang dari dunianya, untuk memberi pelajaran pada seorang ibu rumah tangga pemalas seperti diriku. Malang nasibnya, berakhir dengan eksekusi mati diujung pipa paralon.

Terimakasih tikus kecil.

Me, My Self And Syifa


Kata bapakku, aku adalah manusia setengah jadi, orang bukan-bukan, dan anak tanggung-tanggung. Begitulah, sampai aku menikah, predikat itu masih tersemat untukku, sampai usiaku hampir 31, dan aku belum cukup genap sebagai manusia. Tak mengapa, memang begitulah adanya. Seniman bukan, ilmuwan bukan, sastrawan bukan, semuanya serba tanggung.

Terlahir dengan banyak kesenangan, tidak membuatku menjadi orang yang cukup mengerti akan apa yang paling kusenangi. Beruntung kalian yang tak punya banyak bakat sejak lahir, ketimbang harus memikirkan potensi diri di umur yang tak bisa disebut muda lagi.

Meskipun demikian, aku bersyukur dengan hidupku, aku menjalani hari dengan cukup bahagia, bersama suamiku yang sangat baik hati sejak awal menikah hingga hampir 3 tahun usia pernikahan kami. Aku bangun pagi, biasanya pukul 04.00, lalu membuka laptopku, lalu membuka-buka akun facebook, lalu sholat sebentar, lalu kembali ke laptopku, lalu pergi membeli sarapan untuk suamiku, dan aku harus mandi sebelum jam 07.00 pagi, begitu perjanjian yang kubuat dengan suamiku, sehingga ketika dia berangkat ke kantornya, dia akan mencium keningku yang sudah wangi. Setelah dia berangkat, aku baru akan memulai hariku, membereskan rumah, menyapu, mencuci piring kotor, mencuci baju, menjemur pakaian, dan berbelanja juga memasak. Biasanya aku menyelesaikan semuanya antara jam 10.00-11.00, setelah itu aku bebas melakukan apa saja yang aku mau.

Kadang aku menghabiskan siangku dengan membaca buku, kadang aku menulis, dan kadang aku mengerjakan hobiku yang lain. Di hari Selasa aku harus menyelesaikan pekerjaan sebelum jal 09.00, karena aku mengikuti kegiatan pengajian rutin pada hari itu. Sedang hari lain, aku menyibukkan diri dengan pergi ke perpus, menghabiskan setengah hari di sana, atau kadang mampir ke toko buku. Hanya buku yang aku beli dengan senang hati. Baju, jilbab, sandal, dan kebutuhan lain, aku membelinya bila sudah benar-benar butuh, aku bersyukur tak terlalu terobsesi dengan hal-hal demikian. Oh iya, ada satu lagi yang kubeli dengan senang hati, yaitu makanan. Aku membeli makanan yang kusukai, hingga berat badanku naik drastis 20kg sejak aku menikah, lebih tepatnya dua tahun lalu, sejak aku mengalami keguguran.

Ada dua hal yang menjadi prioritas dalam keinginanku, punya anak dan menerbitkan buku, bukuku sendiri. Untuk hal pertama itu adalah given, sekeras apa aku meminta, hingga merengek atau meronta, itu tetap diluar kuasaku, meski sebetulnya aku sendiri belum terlalu keras dalam berusaha. Sedang hal yang ke-2, seperti kata bapakku, aku memang manusia setengah jadi, banyak yang sudah kutulis, namun semuanya hanya setengah..., ya setengah jadi, dan aku mulai sibuk dengan hal lainnya.

Belakangan sebetulnya aku mulai risih dengan predikat setengah jadi itu, maka pelan-pelan aku mulai memperbaiki diri, salah satu cara yang kutempuh adalah dengan membuat blog ini. Ini bukan blog pertamaku, banyak blog lain yang sudah kubuat, dan sudah lama kutinggalkan. Mungkin ini adalah blog pertama yang tidak akan kutinggalkan? Siapa yang tahu, yang jelas aku sudah bosan dengan predikat itu, dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik sebelum semuanya menjadi terlambat.

Semoga!