Selasa, 07 Juli 2015

Apa Kabar Dakwah Sekolah?

Beberapa hari lalu, almamaterku SMA Negeri 1 Purwokerto hampir saja kecolongan. Sebuah kegiatan bertajuk pemutaran film "Pada Bae Mbok", nyaris saja menjadi salah satu acara dalam kegiatan Amaliyah Ramadhan. Isi dari film itu kurang lebih adalah paham menyesatkan, yang menganggap bahwa tidak ada beda antara Islam dengan Ahmadiyah, maupun dengan Syi'ah. Entah bagaimana kronologi dan ceritanya, sehingga acara bertajuk demikian begitu mudah masuk ke sekolah. Publikasi pemutaran film tersebut menyebar secara viral di kalangan adik-adik Smansa, padahal konon belum mengantongi ijin resmi dari pihak Kepala Sekolah. Sebelumnya film tersebut telah di putar di Fakultas Fisip Unsoed. Artinya kegiatan pemutaran film ini memang telah menjadi program segelintir orang yang ingin paham semacam Syi'ah dan Ahmadiyah diakui sebagai bagian dari Islam.

Ulul Albab, masih ingat ribuan memori di sana?


Bagi kita masyarakat muslim Banyumas sudah sepantasnya ini menjadi lampu kuning untuk meningkatkan kewaspadaan, bahwa para penyusup semakin lihai memainkan strategi dakwah mereka, sementara terkadang kita masih berkutat pada hal remeh-temeh yang tak perlu diperdebatkan.

Sambil mengenang masa lalu, ngaku-ngaku sedikit sebagai pelaku dakwah sekolah, saya lulus 2002, kembali ke sekolah untuk mulai bergerilya dan sok kenal sok dekat dengan adik-adik ROHIS tahun 2004, memang kala itu masih single fighter, hanya dibantu seorang akhwat senior yang kebetulan sahabat dekat, betul-betul hanya karena senang dengan aktivitas dakwah sekolah. Malu dan minder yang hinggap nggak ketulungan. Bukan murid teladan, sebaliknya hanya murid telatan, sudah begitu tempat kuliah saya pun bukan tempat kuliah bergengsi. Sejujurnya bagi saya menginjakkan kaki di halaman sekolah dengan nama besar seperti Smansa Purwokerto itu, lebih berat dari berlari sepuluh kali keliling lapangan.

Kalau ingat momen itu, rasanya saya ingin mengulang SMA lagi, pengen belajar yang rajin, jadi anak pintar yang membanggakan, agar percaya diri melangkah berdakwah di sekolah. Namun, rupanya Allah SWT punya rencana lain, saya memang bukan bagian dari siswa yang pandai, sengaja dibuat kuliah di Purwokerto saja, itu pun di sebuah kampus yang tidak banyak diminati anak-anak Smansa, hanya sebuah kampus D3 Keperawatan di pinggiran kota Purwokerto. Tapi rupanya skenario ini yang membawa saya bisa balik lagi ke Smansa, biar bisa berdakwah semampu saya di almamater tercinta.

Dalam benak saya hanya teringat sebuah ayat, "Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.", terus saya ulang-ulang dalam hati ayat tersebut, supaya tak gentar kaki ini melangkah, supaya tak enggan wajah ini ketika bertemu dengan para guru, supaya teguh jiwa ini melangkah selama di jalan kebaikan.

Alhamdulillah, meski tidak banyak yang bisa saya lakukan, tapi diantara adik-adik saya di Smansa dulu, banyak yang istiqomah melanjutkan estafet dakwah. Bahkan beberapa di antaranya kini menjadi mas'ul dakwah, menjadi kader inti dakwah dan justru saya yang kini harus banyak belajar pada mereka. Kadang menetes air mata ini karena bahagia, mereka adalah kebanggaan saya. Memang bukan karena kata-kata saya mereka menjadi seperti hari ini, tapi setidaknya saya pernah bersama mereka, pernah jadi bagian dari perjalanan orang-orang sukses, itu yang membuat saya merasa bahagia.

Dakwah di Smansa, dan saya pikir di semua sekolah, punya tantangan tersendiri. Utamanya adalah meyakinkan para guru dan orang tua, bahwa apa yang kita bawa adalah kebenaran. Hempasan isu terorisme, aliran sesat dan sebagainya seolah tak henti menerjang. Pihak sekolah lebih takut alumni Rohis yang lugu, unyu, dan baik hati masuk ke sekolah timbang mohon maaf alumni yang berlatar belakang tidak jelas. Mereka yang membawa berbagai isme yang juntrungannya membawa pada pola pikir sekuler, jauh dari nilai-nilai Islami. Alumni-alumni itu justru lebih mudah diterima pihak sekolah.

Kadang saya merasa miris melihat kenyataan itu, sempat terpikir untuk sering-sering mengajak alumni ROHIS yang sudah sukses, kuliah di kampus bergengsi, bekerja di instansi yang bergengsi, untuk ikut sekadar nongol pas acara ROHIS, untuk sekadar pencitraan, "Ini loh, alumni ROHIS yang berprestasi, hubungan kami baik, dan mereka menitipkan adik-adiknya pada kami yang di Purwokerto, karena mereka jauh dan nggak bisa sering-sering main ke Smansa. Kami di kampus-kampus kami yang bonafit itu juga ngaji loh, juga mentoring, jilbab kami juga lebar, celana kami juga cingklang, kami juga berjenggot tipis, dan kami bukan teroris." Supaya pihak sekolah tahu, alumni ROHIS juga banyak yang berprestasi, dan soal penampilan, belum tentu yang berjilbab lebar, berjenggot itu ekstrimis dan tidak nasionalis.

Sebuah introspeksi juga bagi kami para alumni ROHIS, mungkin penampilan yang dianggap terlalu ekstrem, mungkin pula kurangnya silaturahim dengan pihak sekolah, atau berbagai kemungkinan lain. Satu saja yang sudah jelas menjadi sunatullah, bahwa dalam berdakwah, tak pernah ada jalan yang mulus-mulus saja, bila demikian hal itu malah sepantasnya menjadi pertanyaan.

Ingin rasanya ada sebuah kesempatan, teman-teman aktivis dakwah sekolah, duduk satu meja dengan para guru, bila perlu kita silaturahim dengan guru-guru mata pelajaran agama Islam se-Banyumas, membahas bagaimana dakwah sekolah bisa berjalan, menyiapkan SDM yang mumpuni, bila perlu diadakan seleksi mentor sekolah, penyeleksinya para guru mata pelajaran agama Islam, supaya dakwah sekolah ini menjadi lembaga yang legal dan diakui keberadaannya, dan tidak perlu ditakuti oleh pihak sekolah dan orang tua tentunya. Bagaimana kita bersinergi agar maksiat di kalangan pelajar tidak semakin menjadi-jadi. Toh, orang tua juga yang mengeluh bila anaknya berbuat ini itu, meninggalkan sholat, demen pacaran, bahkan sampai pada pergaulan bebas.

Sekaligus ini juga sebuah tantangan bagi para aktivis dakwah kampus, tak selamanya dakwah itu nguplek-uplek dunia kampus. Ayo turun ke sekolah. Memang dakwah sekolah tidak bergengsi, tidak bikin kita terkenal, tidak seheroik dakwah kampus yang penuh dengan dinamika. Namun, percayalah bahwa tunas-tunas itu ada di sini, di dakwah sekolah. Terlebih sekolah-sekolah favorite di Purwokerto, banyak yang masuk sekolah terbaik seluruh Indonesia, untuk Smansa sendiri bahkan masuk 10 besar sekolah terbaik di Indonesia, bibit-bibit pemimpin ada di sini, mereka yang nanti akan menguasai sektor-sektor penting, calon-calon pemimpin bangsa. Sejak mereka sekolah itulah kita sentuh hatinya, kita dampingi agar kelak menjadi pemimpin yang menjaga agamanya.

Qodarullah, Allah mungkin ingin saya istirahat, 2011 saya sakit yang membuat seluruh aktivitas dakwah sekolah harus saya hentikan. Sejak itu, saya sudah tak lagi berinteraksi dengan dakwah sekolah. Tak tahu lagi kabar adik-adik di Smansa, atau pun adik-adik di sekolah lain. Satu hal yang harus saya syukuri, saya masih berada di jalan ini, Allah SWT masih memberi kesempatan untuk terus berputar bersama orang-orang yang menyeru pada kebaikan. insyaAllah perjuangan dakwah ini tidak akan pernah selesai. Bila bukan kita, pasti Allah gantikan dengan orang-orang yang lebih baik dari kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar